. >>>

31 Mei 2009

Cap Jempol untuk Musisi Jalanan


Barusan aq naik motor ke kota mau cari warung makan siang. Tp di tengah prjalanan aq mdgr riuh musik memekak telinga. Tadinya kupikir Topeng Monyet. Tetapi rupanya sekolompok anak muda ini adalah pengamen jalanan dgn prlengkapan yg lumayan memadai. Mereka ini masih muda dan tidak cacat, hanya pakean agak gembel. Musiknya memukau.. spt genre melayu-jawa, gak jelas krn gk pake vokalis. Yg ada hanya 2 org yg akting memainkan kuda lumping. 1 memainkan gitar elektrik, 1 mainkan kibod, 1 memukul gong, 1 memainkan gurindam dan 1
org sbg kolektor sumbangan. SALUT..itulah kata yg bisa kberikan. Sayang sekali ketika aq mengeluarkan hapeku utk mengambil gbr mereka sdh mau bubar hingga beginilah hasil jepretan. Artinya: terlalu murah harga seribu yg kuceplok kan kepiring kolekte untuk 2 single lagu plus amb├Čl gambar. Ingin kuikuti mereka utk show berikutnya tetapi perutku udah keroncongan. langsung aja deh..post to my blog.hihi.[.]

Selengkapnya...

30 Mei 2009

Musik untuk Produktifitas

Saat Band Pearl Jam menghabiskan lagu terakhir dalam album 'Best of..' dan 'Vitalogy' nya,tiba-tiba aku tersadar, sudah 2 jam aku jongkok di tikar ini. Aku Juga baru sadar telah menyelesaikan pekerjaan isengku.
Makjaangg..

Aku berhasil menyemir sepatu hitamku.
Dan?..membersihkan sepatu bolaku yang putih kini kinclong, setelah kemarin sore bertanding dilapangan berlumpur dengan team dari buruh bangunan Torganda inc.
Dan? membersihkan sepasang kaos kaki dengan mengutil satu persatu biji sebesar kutu anjing, biji dari sejenis rumput (yang aku gak tahu rumput apa namanya..apalagi bahasa latinnya) yang menempel di kaos kaki itu.
Hasilnya? Segepok biji terkumpul. Gak terhitung jumlahnya, mungkin 5 ratusan. Berarti udah ratusan kali jemari tanganku berulang up- down bekerja seperti buruh di pabrik rokok yang melinting tembakau. Sampai dua jam gak terasa.

Aku sendiri heran dengan diriku mengapa aku bisa sesabar itu. 2 jam lho tanpa beranjak atau mikirin yang lain. Mungkin Juga sih pengaruh karena saat ini aku memang sendirian di rumah. Klo gak pasti diganggu sama si kecil atau diledek sama si mama.
Perhatianku kini tersita ke MP3 player yang berhenti. Kog silent ?, mana Pearl Jam-nya?.


Got it !! It's the music that keeps me enjoying. Alunan musik membuat kita asik dan lupa dengan beban kerja dan rasa capai. Jadi produktifitas bisa ditingkatkan dengan alunan musik.
THIS IS LESSON FOR TODAY !!!
Nah sekarang aku punya ide, jika nanti aku punya pabrik maka tata ruang pabriknya harus menyediakan speaker yang menyebarkan alunan musik. Terserah musik apa gak harus rock alternatif seperti Pearl Jam guwe hehe. Bisa klasik atau kontemporer. Sehingga semua pekerjanya bisa asik dan tetap rileks dan sesekali menguap untuk merelaksasi otak.

Ya, tentu saja kalian punya kritik dan pemikiran lain. Aku bilang untuk pabrik guwe,bukan pabrik kalian. Itu pun 'jika nanti' aku punya pabrik. (Pabrik apaan?, XTC kali ya,Hahaha..) [.]

(diketik & posting by siponsel)

Selengkapnya...

29 Mei 2009

Lagi-lagi: Facebook

"Facebook pun menjadi media yang paling efektif untuk mewartakan keberadaan dan status ke aku an. Facebook menjadi media untuk komplain kerjaan banyak tapi gaji kecil, untuk beribadah dengan menuliskan ayat-ayat suci, untuk promosi tulisan, promosi dagangan, promosi rambut baru. Sebagai media mengabarkan bahwa sedang 'meeting' dengan CEO, sedang dalam perjalanan ke luar-negeri (Timor Leste), on the way to airport 'nganter teman'. Media untuk makian, permintaan maaf, undangan pernikahan, ekspresi suasana hati dalam keterpurukan, jatuh cinta dan kebahagian. Untuk curah pendapat, sakit perut, datang bulan, sakit flu, mencret, masuk angin, demam, curhat dan wall pun menjadi tembok ratapan."


cangkir kayu: Facebook


Selengkapnya...

Dairi Pers: KOPI LUWAK Liputan Vanity Fair : MAKIN DIMINUM MAKIN SEGAR

Berasal dari tai musang tapi nikmat? Hewan Luwak atau musang yang hidup di Sumatra telah menghasilkan kopi paling mahal di seluruh dunia.

Dairi Pers: KOPI LUWAK Liputan Vanity Fair : MAKIN DIMINUM MAKIN SEGAR
oleh Imma Vitelli, foto Ben Bohane

Vanity Fair Edisi Italia Bulan Oktober 2008 memuat KOPI LUWAK SIDIKALANG
Pengantar: Kopi Luwak Sumatera dari Sidikalang adalah produk unggulan yang pantas dibanggakan, apalagi setelah dimuat di Vanity Fair tsb diatas. Berikut adalah saduran reportase oleh Imma Vitelli. Kami berterimakasih kepada Pastor Ben OFMCap, Biara Kapusin Helvetia, yg telah membantu menerjemahkan naskah asli dari Bahasa Italia.
Seorang sahabat dari Australia bercerita bahwa kopi dari tai musang dibelinya di Sidney dengan harga U$ 50 per gelas. Kopi ini sangat jarang karena hanya sekitar 500 kg/tahun. Sore panas di sopo, dengan rasa enak kopi, ditambah rasa cokelat, padahal dari tai musang, bukankah itu menarik? Kalau ingat bahwa kopi tsb telah melalui perut musang siapa yang mau. Tetapi jangan berhenti dulu.

Photo Cover. Para Petani Pengumpul Kopi Luwak Sedang Menikmati Kopi Luwak tsb di Kediaman N. Gultom di Sindoro, Desa Barisan Nauli, Kec. Sumbul, Kab. Dairi (foto oleh Ben Bohane, Vanity Fair)
Ini adalah keajaiban alam: Luwak hanya memakan kopi terbaik dari jenis Kopi Arabika Sumatera. Kopi hanya kehilangan lendir buahnya, kulit biji tidak terganggu sama sekali pada saat biji dikeluarkan melalui feses. Kopi tsb telah dipengaruhi oleh enzim pencernaan musang sehingga lebih harum dan memiliki cita rasa yang lebih enak.
Kopi luwak tsb dikumpulkan ibu-ibu dari tengah hutan yang berdampingan dengan kebun kopinya. Ibu-ibu tsb mengumpulkannya seperti para perempuan (di Eropa) mengumpulkan kotoran anjingnya (di Eropa adalah tanggung jawab pemilik anjing untuk mengumpulkan dan membuang kotoran anjingnya).
Kopi luwak yang diagungkan oleh cafe-cafe yang mahal di seluruh dunia dan dimuat di Majalah Forbes, dan ditayangkan di acara talk show Oprah, dan ditawarkan melalui eBay melalui coffee shop di New York, Hong Kong, Vancouver, London, juga di Milan.
Demikian cerita yang menantang kami, lalu kami menghubungi Sdr. Eko Maryadi, untuk membantu liputan tsb. Hal ini kami lakukan karena banyak orang merahasiakan hal kopi luwak sehingga kami semakin penasaran. Akhirnya suatu hari Eko Maryadi menghubungi John M. Sianturi untuk reportase kami.
Hari panas ketika kami tiba di Medan, Sumatera Utara. Tempat ini indah, masih memiliki hutan, gunung yang masih aktif, dan di kiri kanan jalan yang kami lalui ke tempat tujuan ada sedemikian banyak perkebunan kakao, vanili, dan tanaman cengkeh.
Kami tiba di Sidikalang yang merupakan daerah kopi. Kopi tsb tidak terlalu tinggi hanya setinggi orang. Kami berhenti di pekan Sumbul, menyaksikan rumah dari kayu, petani yang menjual kopi arabika Sidikalang. Mereka jual beli kopi arabika akan tetapi tidak ada yang menjual kopi luwak.
Untuk penduduk Kab. Dairi luwak adalah musuh karena menjadi hama buah-buahan, ayam, dan memakani buah kopi. Kesan kami luwak adalah hewan yang tidak baik.
Kami berjumpa dengan John M. Sianturi yang ramah dan memberikan kartu namanya yang indah karena dirancang dengan baik. John cerita bahwa sewaktu kecil hingga bekerja di Lab. Vertebrata sering melakukan pemerangkapan musang karena gangguan hewan ini pada pertanian.
Apa yang membuat kami terpesona adalah John M. Sianturi bagaikan Robin Hood dari Sumatera karena merupakan orang pertama di dunia yang menjual kopi luwak tsb ke negara-negara maju dan mendampingi petani. Dia mampu mengekspor kopi tai hewan tsb dengan harga yang tinggi. Hal ini dilakukannya setelah melihat acara Oprah di Internet, lalu berseru: ”kenapa saya tidak melakukannya?”

Ir. John M. Sianturi, Dipl.Agr. di tengah Kebun Kopi Sindoro, Desa Barisan Nauli, Kec. Sumbul, Kab. Dairi (foto oleh Ben Bohane, Vanity Fair)
John ini menamatkan Sarjana Pertanian di IPB lalu mendalami Manajemen hama perkebunan, juga di IPB, selama 3 tahun setelah itu. Dia memiliki latar belakang ilmu yang cukup lengkap tentang musang.
Ini memang pekerjaan sulit untuk dia karena harus menyakinkan petani kopi bahwa tai musang berharga menjadi kopi luwak. Musang dari lawan menjadi kawannya. Pencernaan luwak baik untuk mutu kopi, musang perlu dilindungi di sekitar hutan Lae Pondom. Hal ini karena masih ada lebih dari 600 musang di hutan tsb.
Sindoro
Kami tiba di sekitar hutan yang berdampingan dengan kebun kopi. Kami menyaksikan hujan yang sangat lebat, pakaian yang di jemuran pun tak sempat diambil hingga menjadi basah semua.
Nelson Gultom dan isterinya br. Sianturi yang adalah pengurus kelompok tani menyambut kami dengan ucapan selamat datang. Ada sekitar 10 ibu-ibu yang ada di tempat tsb. Bagi kami semula melihat mereka seperti vampir karena mereka memakai sarung di cuaca yang dingin dan mulut mereka merah seperti darah. Ini karena mereka makan sirih.
Para ibu-ibu tsb adalah petani miskin, hidup mereka berat; daun sirih menjadi sahabat. Dari 250 orang petani di daerah tsb ada sekitar 20 orang yang dengan suka rela menjadi pengumpul kopi luwak yang terlatih.
Gultom dengan semangat menjelaskan bahwa kopi luwak tsb dahulu tidak dihargai. Sering hanya dicampur dengan kopi biasa. Dengan kegiatan oleh John M. Sianturi maka kopi luwak tsb memiliki harga mahal. Kami menyaksikan tai luwak yang masih segar, butir kopi yang putih bercampur dengan biji-bijian hitam dalam kantong plastik yang dibawa petani. Pak Gultom lalu mengambil tai luwak tsb satu sendok lalu menaruhnya dibawah hidungku, dan baunya hanya seperti tanah lembek.
John menjelaskan bahwa bau kotoran yang umum dipengaruhi oleh bakteri Coli. Pada usus musang tidak ada bakteri Coli tsb sehingga tai musang tidak bau.
Ibu-ibu lalu membuat lipatan daun sirih baru. Ibu Silalahi yang duduk di sampingku bercerita bahwa dia baru mulai satu minggu ini menjadi pengumpul kopi luwak. Dulu dia tidak mau karena telah memiliki penghasilan Rp. 400-900 ribu/bulan dari hasil kopinya. Dia mampu menyetor sekitar 12 kg kopi luwak segar per minggu. Dan hal tsb sudah membantu menambah penghasilan keluarganya.
Menikmati kopi luwak
Kemudian tiba waktunya, isteri Pak Gultom membawa air panas dan kopi yang sudah digiling. Dia menuangkan air panas pada kopi bubuk dalam gelas. Saat untuk meminum pun tiba. Karena disodorkan, akhirnya saya minum juga. Kopi yang sangat bagus dengan sedikit rasa cokelat yang alami. Enak sekali. Kami meminumnya bersama-sama para ibu tsb.
Saya lihat sekeliling, melihat reaksi ibu-ibu tsb. Saya melihat mereka dalam kemiskinannya yang membuat para orang kaya heran. Mereka mengaku bahkan baru kali ini menikmati kopi yang sangat enak tsb. Selama ini mereka belum pernah mencobanya. Sementara orang-orang kaya di negara maju sudah menikmati kopi luwak tsb di cafe-cafe mewah dengan harga yang sangat mahal.
Pendapat Sdr. John M. Sianturi setelah reportase tsb adalah kekuatiran pemalsuan. Orang tergiur dengan harga mahal, lalu nama produk unggulan tsb menjadi cacat bahkan hancur. Dia mengatakan: ”Saya melakukannya dengan tulus. Pedaganglah yang sering menghancurkan komoditi unggulan Dairi. Uang bukan segala-galanya!” Ada ucapan dia yang menyentuh hati: ”Belum cukupkah nama nilam, vanili, dan kopi sidikalang hancur? Jangan hancurkan lagi nama Kopi Luwak Sidikalang yang dengan susah payah kami bangun!”
Diposkan oleh Dairi Pers Support Team di 22:32

Selengkapnya...

28 Mei 2009

Keputusanku untuk Merumput (Lagi)

Final Liga Champion tadi malam antar Barcelona VS Manchester United dimenangkan oleh Barcelona dengan skor telak 2-0. Di kantorku pagi ini anehnya bukan soal serunya pertandingan yang dibahas, tetapi serunya ejek-mengejek dan tagihan traktir men-traktir antara pihak-pihak yang kalah dan menang taruhan lah yang menggema. Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan nuansa ejek- mengejek itu. Karena aku sendiri memang tidak pasang taruhan. Bukan nya idealis, tetapi aku hanya “jaim” sama anak buah. Hehe.

Aku lebih tertarik dengan sebuah surat dari PERBARINDO (asosiasi tempat aku bekerja) terletak di mejaku. Isinya sebuah undangan untuk ikut serta dalam sebuah pertandingan sepakbola persahabatan melawan pejabat Bank dan staff BI Medan. Ngapain pula surat ini sampai pada hari ini. Apa pengurus Perbarindo juga sudah ”Gila Bola” lantaran semakin meriahnya Liga Champions, EPL dan bahkan Liga Super ISL?

Lama aku memikir-mikirkan surat ini. Apakah memang mereka serius membutuhkan tambahan pemain atau hanya sekedar basa basi belaka. Tetapi kupikir suratnya resmi dan mengenai jadwal latihan dan tanggal pertandingan sudah tercantum hanya dalam hitungan minggu. Lalu kuberanikan diri untuk angkat telepon dan berbicara dengan Bp. RDS sebagai contact person-nya. Dan memang benar Pak SPS cukup welcome dan meminta saya untuk mendaftarkan juga setidaknya 3-4 orang staff saya untuk ikut seleksi nantinya.

“Seleksi ?, tanyaku serius “. Ai massam mana nya masak mau ikut bertanding pake diseleksi ?
“Ya tentunya diseleksi pak pemain yang benar-benar layak untuk diturunkan pada saat pertandingan persahabatan tersebut”, ucap Pak SPS dengan mantap.

Buset !
Aku agak tawar hati juga mendengar kata-kata seleksi. Jelas menghawatirkan untuk menang seleksi bagi aku yang sudah jarang bermain bola di lapangan besar ? Kami yang taunya hanya iseng ”marbola” futsal “mencari keringat “ ?
Kami dengan kaum bapak berumur rata-rata yang sudah di atas 31 tahun dengan perut yang membuncit..hehe?
Aku sendiri sebenarnya masih ragu apakah masih sanggup bermain bola di lapangan standar.

Tiba tiba seolah ada suara di kepalaku
“ Inilah saatnya..penawaran yang sama tidak akan datang dua kali..” Nunga agak seteres na karejo on..andigan be lari sian rutinitas niba on?.”
Inilah cara kalau mau serius mengecilkan perut dan mempertahankan berat badan. Pun dengan adanya momen ini akan memotivasi diri untuk menjaga kebugaran dengan mendisiplinkan diri untuk bangun pagi dan memenuhi target minimal 3 Km jalan kaki setiap pagi sampai di hari tua. Ceile..

Lalu kutanya beberapa anak buahku
Awalnya juga mereka menolak, bermacam-macam alasannya.
”Ikut pertandingan sepakbola persahabatan, Pak?”
“Bah.. gak kuat, Pak ?
“Bagaimana dengan Futsal Sabtu sore kita, Pak?
“Maaf , Pak. Saya hanya punya sepatu untuk futsal, gak punya sepatu untuk sepakbola lapangan besar.”

Tetapi dengan argumen yang mungkin masuk akal; untuk memperluas jaringan- lah, untuk bertemu pejabat-pejabat Bank dan BI- lah.. bertemu calon rekan bisnis-lah, bertemu cewek-cewek cantik- lah (sori bukan “Caddy Golf” seperti si Rhani itu lho) ahirnya beberapa teman tertarik dan menyatakan kesiapan untuk bergabung.

Lalu kuketik surat dan minta di faks-kan sama seorang staff untuk mendaftarkan 5 nama yang bersedia bergabung ke koodinator Perbarindo. Kami juga telah mengambil kesimpulan apabila -pun tidak masuk dalam seleksi maka kami akan mencari klub TARKAM (antar kampung) terdekat untuk melanjutkan niat bermain bola. Setelah itu kami sepakat untuk mempersiapkan segala sesuatunya Termasuk hal yang mendasar yaitu “Sepatu Bola” masing-masing. Sebagian besar teman-teman mengatakan sudah punya sepatu bola.

Yah, aku sendiri tidak punya sepatu bola, bagaimana mungkin bermain bola tanpa sepatu?

Pada saat setelah tutup jam kantor dengan sisa uang yang ada di kantong aku menyambangi toko olahraga terdekat dan membeli sepasang sepatu bola. Dari beberapa pilihan termurah sampai dengan yang rasanya wajar ahirnya pilihanku jatuh kepada sepasang sepatu putih keemasan, mirip yang kulihat di TV pernah dipakai oleh si Ellie Aiboy pemain sayap PSMS di ISL itu. Mereknya SPECS dengan harga Rp. 210.000,- .
Aku tidak tahu harga ini sudah pantas dan barang yang dimaksud asli atau palsu. Aku tidak tahu menahu soal perlengkapan olahraga. Karena penjaga toko menyatakan bahwa sepatu itu juga yang dipakai pemain sepakbola professional.
Selain itu aku juga membeli sepasang kaus kaki dan pelindung tulang kering. Sedangkan untuk celana dan kaosnya aku teringat masih punya kostum dari kantor yang kami pakai untuk bermain Futsal.

Kini aku memacu motorku dengan semangat, pulang ke rumah dengan bungkusan kotak yang tidak bisa disembunyikan.

”Apa itu?”, tanya istriku

”Sepatu ”, jawabku singkat

”Yee, Sepatu baru lagi nih”, dengan penuh semangat istriku membuka bungkusan tersebut dan senyum-senyum.

“ Oalah.Pa...kirain sepatu macam apa. Ini Sepatu Bola mau dipake kemana? ”

” Bah kau pikkir mau dipake ke gereja itu sepatu?, ya mau bermain Bola lah, Ma”

“ Bermain bola di mana, na godang ma sitanmu, sai songon doli-doli do ho huida sonari ?

“ Ada undangan dari teman-teman di Tanjung Morawa, trus nanti 2 minggu lagi mau tanding di Kota Medan.”

“ Haha..Mau bermain bola?, gak salah tuh, masih sanggup ya.. ntar jadi urusan lagi ?”, mulai mengejek nada nya.

” Ehh..khan selama ini juga udah main Futsal.” ujarku mantap.

” Ya, main futsal angin-anginan, dan setiap pulang main futsal selalu ngeluh dan minta dikusuk. Ini mau bermain di lapangan. Ntar pulang bawa baju becek dan patah pinggang atau kaki. Aku juga yang repot.”

” Mama kog doanya yang gak bener?”

“ Bukan gitu, Pap. Aku tau belakangan ini kamu bangun pagi aja susah, udah pulang kantor selalu malam hari itupun asik dengan diri sendiri di depan TV atau computer. Lalu tidur larut malam. Jangankan waktu sama anak, waktu untuk istirahatmu aja kurang. Ini mau maen bola lagi”. Ujarnya dengan intonasi yang mulai meninggi.

” Hehe.. itulah, Ma. Aku mau keseimbangan. Kupikir dengan maen bola aku dipaksa menjaga kebugaran. Khan gak tiap hari maen nya, cuman hari kamis dan sabtu sore, itupun belum tentu terus-menerus, nah soal waktu ama keluarga khan masih bisa diatur”.

“ Ya, aku cuman mau bilangin aja, Papa udah berumur 31, waktu kerjamu sibuk, dan gak teratur olahraga, jangan gara-gara bola Papa cidera. Niat olahraga malah yang datang penyakit.” Katanya dengan lebih lembut.

” Tenang ma ho disi, Mae. Keputusanku sudah bulat. Kupikir dengan main bola ini adalah investasi yang serius dalam menjaga kesehatan. Ketimbang aku menjalankan hobby yang menyita uang dan tidak pengaruh terhadap kesehatan jangka panjang lho. ”

” Ya, terserah Papa deh, asal betullah janji kau itu nanti bisa ngatur waktu untuk kami juga. Jangan kau asik dengan duniamu saja. Apalagi kalau sempat ada massam-massam dengan perempuan. Kutinggalkan kau dan anak kau ini ”. Ujarnya mengancam lagi.

” Oke deh, Ma, mama emang isteri terbaik sedunia”, ujarku mulai menggodanya.

” Nunga be i, maridi ma ho tu san, Bau hian huanggo keringat-mu i.” Balasnya sambil cepat berlalu menggendong boru kami yang masih berumur 7 bulan. [.]

Selengkapnya...

26 Mei 2009

MENGGAGAS SHARING INFORMASI BERMUTU MELALUI FITUR STATUS DI FACEBOOK

Saat ini terdapat jutaan pengguna situs jejaring social Facebook di seluruh dunia. Dari pengalaman saya melihat bahwa orang biasanya bergabung dengan facebook untuk mencari teman atau memperbanyak jaringan pertemanan.

Langkah awal dalam upaya menambah jaringan pertemanan biasanya dimulai dari orang terdekat baik dimasa sekarang ataupun di masa lalu yang dijumpai sebagai sesama pengguna facebook. Biasanya teman alumni sekolah yang sama, teman kuliah, maupun teman yang berasal dari daerah asal yang sama (kampung halaman yang sama). Penambahan jaringan teman berdasarkan hobby / minat yang sama maupun pandangan yang sama terhadap suatu persoalan /topik adalah proses yang datang kemudian.


Kecenderungan yang membuat para anggota memiliki minat yang besar atau bahkan bagi banyak kalangan yang tanpa sadar telah kecanduan facebook adalah adanya konten yang bersifat real time dan sangat dinamis. Hal ini dapat kita lihat dari fitur perubahan ” status” masing-masing user baik dalam upload gambar maupun catatatan baru sampai ke perkembangan jaringan pertemanan seseorang ditampilkan dalam satu papan pesan. Ini memungkinkan seseorang untuk dapat memantau perkembangan temannya.

Perkembangan jejaring sosial ini semakin pesat seiring juga dengan kemajuan dalam teknologi jaringan telepon seluler. Pemanfaatan GPRS maupun 3G membuat produsen perangkat telepon genggam menciptakan peluang masyarakat untuk dapat selalu terhubung ke internet. Kini kita sudah dapat mengakses situs berita, blog maupun email dari pesawat Handphone. Belakangan ini Facebook juga sedang gencar-gencarnya berpromosi akses handphone melalui beberapa operator. Bahkan Operator 3 menyediakan layanan SMS untuk notifikasi perkembangan status di Facebook.

Tulisan saya ini bukan bermaksud membahas teknologi Facebook secara luas karena saya pikir banyak pihak yang lebih kompeten terhadap hal itu. Fenomena yang sangat menarik bagi saya adalah menyangkut fitur status di Facebook.
Fitur ini sangat sederhana dan sangat mudah untuk digunakan bahkan bagi anggota baru sekalipun karena selain telah menyediakan pilihan bahasa Indonesia fitur ini juga terletak di area yang dengan jelas mudah dijangkau. Beda halnya dengan fitur Upload Foto, Profil, Catatan, maupun tautan, bahkan GAMES memerlukan ketelitian pemakai yang lebih ekspert dalam ‘per-fesbukan’.

Di dalam fitur status berlangsung lalu lintas konten yang sangat dinamis. Hanya dengan mengetikkan suatu kata ataupun kalimat maka status terkini pengguna akan otomatis diperbaharui dan ditampilkan pada layar dingding setiap anggota teman yang terdaftar. Fitur ini juga membuka peluang seluas-luasnya bagi para user untuk mengirimkan (posting) komentar, statemen maupun berita ‘suka-suka” yang umumnya berpretensi lebih kea rah upaya menarik perhatian. Oleh karena sifatnya yang menarik perhatian dan berputar secara real-time inilah sesungguhnya salah satu alasan mengapa banyak orang yang tidak bosan-bosanya (sehingga kerap dibilang kecanduan) menyempatkan diri mengintip profil facebooknya melalui HP baik ketika di perjalanan ataupun sekedar duduk di depan monitor computer sembari mengerjakan tugas kantor.

Menurut saya sebenarnya setiap postingan yang muncul di dalam Status adalah merupakan informasi yang dapat digunakan oleh pembacanya untuk dapat mengetahui situasi, mengukur keadaan di lingkungan si pengirim atau bahkan suasana hati dan jiwa si pengirim. Bisakah kita bayangkan apabila setiap pengguna memposting komentar yang sifatnya deskriptif (melaporkan). Maka fitur STATUS Facebook ini adalah ”running text” Informasi yang boleh dikatakan jauh melebihi kecepatan update berita media cetak, media televise ataupun media cetak online.
Persoalannya sekarang adalah apakah komentar yang sepotong-sepotong ataupun tidak terstruktur dan spontan yang biasanya muncul di kolom status layak dijadikan sebagai informasi ? Yang tidak mengenakkan atau justeru terkesan mubajir adalah ketika postingan dalam status oleh user maupun teman-teman lebih banyak berisi seputar komentar mengenai diri sendiri dan celoteh yang tidak karuan yang sifatnya hanya mencari perhatian dan memancing perdebatan untuk POPULARITAS semata.

Dari pengalaman saya ber-facebook masih sedikit teman yang mau mengirimkan postingan pada kolom status yang bersifat korespondensi deskriptif terhadap suatu peristiwa ataupun masalah yang tentunya bermanfaat bagi orang lain. Seperti contoh postingan informatif mengenai skor pertandingan sepakbola, acara TV, Diskon dan event di suatu pusat perbelanjaan, Launching produk ataupun buku dan lagu baru, informasi lalu lintas, informasi gempa, Indeks harga saham, informasi cuaca di daerah tertentu dan banyak lagi. Informasi ini sebenarnya dapat kita peroleh melalui korespondensi pertemanan kita di Facebook. Karena tidak semua berita dapat disajikan secara cepat oleh media. Saya telah mencobanya dan tidak sia-sia. Saya sangat senang membaca postingan status di Facebook mengenai situasi daerah tempat asal saya dimana keluarga dan orangtua saya berada. Mungkin demikian juga teman-teman semua.
Untuk itulah melalui catatan ini saya mengajak teman-teman yang keranjingan Facebook untuk memulai membiasakan diri untuk posting komentar yang informatif yang MUNGKIN berguna bagi teman-teman. Sehingga keberadaan dan keterlibatan kita di Facebook tidak serta merta di klaim sebagai pemborosan semata ataupun kesia-siaan belaka. Sehingga tidak perlu ada kelompok yang mencap facebook sebagai ancaman bahkan pake fatwa haram segala.

Segitu aja dulu dari saya, berhubung waktu semakin larut, otakku udah low-bat, saya khawatir yang tertulis malah uneg-uneg emosional.
Lagian aku cemburu melihat isteri dan anakku yang terlelap di tempat tidur sementara aku sibuk dengan lappie ini seolah aku mau kejar deadline. enggak lah yaw!
[.]

Jam menunjukkan Pukul 23.55
Perbaungan 26 Mei 2009


Selengkapnya...

21 Mei 2009

We love u Grandpa


As reguest by Katie..on May 20th.wanna see our papa ''mangabing pahompu?''..ceile.
Selengkapnya...

18 Mei 2009

Home Industri Opak & Alen-alen


Ini bukan lah Filamen untuk Energy Surya.. tetapi penjemuran Opak hasil olahan Home Industri.
Lokasi: Dusun Melati II kecamatan Pegajahan Serdang Bedagai.

Selengkapnya...

17 Mei 2009

AYO LESTARIKAN BAHASA BATAK

Kutipan dari Tulisan Charles M. Sianipar
(Permisi ya Pak, saya kutip tulisannya )

BAHASA BATAK TERANCAM PUNAH
Share
24 October 2008 at 00:17

Judul artikel ini bisa dianggap tidak mungkin atau malah sependapat dengan saya.
Karena usia yang masih muda, saya melihat dari dua sisi, orang tua dan generasi muda. Agar bahasa Batak tetap lestari tentunya harus selalu digunakan, minimal diajarkan ke generasi berikutnya, bila proses itu sudah tidak berjalan, terancam punah, sirna.

Kita lihat di kota kota besar, Jakarta, Bandung, bahkan di Medan dan Pematang Siantar, anak anak muda sekarang sudah banyak yang tidak mampu menuturkan bahasa Batak ini dengan baik. Sebagian ada yang masih mampu, tetapi sangat tidak beraturan, sebahagian lagi ada yang mengerti, tapi tidak mampu menuturkannya. Bahkan sebagian orang tua ada yang mengatakan, ai ndang diboto dakdanak on be marhata Batak, nunga tubu dison (dikota) nasida :-(



Melihat kondisi diatas, ada yang salah dalam diri kita.
Menurut si anak mereka tidak salah, mereka menyalahkan generasi diatasnya, orang tua. Orang tua menganggap si anak tidak mau belajar.
Seharusnya orangtua mengajarkan dan melatih si anak dari usia dini agar mampu berbahasa Batak. Sama seperti pembelajaran bahasa disekolah, bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, atau Sunda, mereka dilatih dan diajarkan kosa kata, tata bahasa yang baik & benar.

Pernahkah kita melakukan itu terhadap si anak, atau si anak sama sekali tidak perduli. Bahkan ada dari mereka yang tidak bangga atas jati dirinya, tercerabut dari akarnya.

Belajar bahasa harus senantiasa dilatih dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Dan kita harus ingat, punahnya bahasa dearah dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah itu. Kapan itu akan sirna, tergantung pemilik bahasa daerah tersebut, beberapa generasi ke depan, 100 tahun lagi, 75 tahun lagi atau 25 tahun lagi.

Saya pernah menulis suatu artikel di internet , dengan judul Apakah Anda Turut Berperan Memusnahkan Bahasa Batak Toba? dengan beberapa indikator.
Sebagian dari isi tulisan itu saya sampaikan lagi disini.

1. Karena orangtua (Ayah/Ibu) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.
2. Bila bahasa Batak bukan lagi bahasa yang dominan di rumah. (Punahnya bahasa daerah, dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah itu)
3. Bila orangtua tidak mengajarkan anaknya bahasa Batak. Orang tua tidak menyampaikan kepada si anak bila mereka berbahasa Batak, dijawablah dalam bahasa Batak, bila mereka berbahasa asing dijawablah dalam bahasa asing tersebut.
4. Bila Ompung naburjui berkomunikasi dengan pahompu harus menggunakan Bahasa sileban (Indonesia atau Inggris) biar pahompu yang manis manis ini mengerti.
5. Bila si anak mengatakan: “Saya sudah lahir, besar di (Medan, Jakarta, Bandung, Jogja, dll) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.” Dan mereka sangat bangga mengatakan itu. Orang Belanda ratusan tahun tinggal di Batavia, tetap saja berbahasa Belanda. Orang China, India, dll begitu juga. Orang Jawa direlokasi ke Sumatra, malah tetangganya yang Batak jadi berbahasa Jawa.
6. Bila si anak ditanya dalam bahasa Batak, Di dia hutam, Aha Margam? Ise Goarmu? langsung error tidak nyambung. Tapi bila ditanya: “Kamu orang apa?” dia akan menjawab dengan mantap “Orang Batak”.
7. Bila anak anak di rumah lebih fasih berbahasa asing (Inggris, Mandarin atau bahasa daerah yang lain) dibanding berbahasa Batak. Padahal menguasai banyak bahasa tidak ada ruginya, termasuk bahasa Batak itu sendiri.
8. Jika ponakan; bere, paraman, maen, anak kakak, anaknya adik tidak mampu juga
9. Bila naposo ini mengatakan: Ngerti seh … tapi nggak bisa ngomongnya.
10. Ketika orang orang muda ini berkata “Proud to be Batak” tapi tidak bisa ngomong.
11. Bila kita beranggapan, kalau libur sekolah, anak anak mau dikirim ke kampung untuk belajar bahasa Batak. (Kenyataan, dikampung, anak anak sekarang sudah tidak berbahasa Batak lagi)
12. Bila orangtua menganggap: “Hare gini … … anak anak diajari Bahasa Batak”
13. Bila kita mandok hata (berbicara) dalam suatu acara keluarga/pesta, ada yang teriak: “Pake bahasa Indonesia saja, biar anak-anak pada ngerti.”
14. Bila anaknya tokoh adat, raja parhata, yang rajin ke pesta dan perduli dengan urusan adat, tapi anak anaknya tidak mampu berbahasa Batak dengan baik.
15. Saat kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita halak hita (orang kita Batak), dia reply dalam bahasa lain yang lebih dominan
16. Ketika orang Batak merasa malu berbicara dalam bahasa Batak di keramaian, tempat umum saat bertemu dengan halak hita.
17. Kesulitan membaca tulisan dan banyak tidak dimengerti tulisan yang dimuat dalam bahasa Batak seperti yang ditulis di Blog TanoBatak.
Sekarang kita sulit mengucapkan hata Batak yang halus, bahkan cara menuliskannya, apalagi aksaranya, sudah duluan hilang, dihilangkan. Pergi entah kemana, mago (punah).

Apakah bahasa Batak itu akan kita biarkan, terancam punah? Sebaiknya kita sedih bila itu sampai terjadi. Hanya ada satu cara sederhana mencegahnya dan langsung bisa kita terapkan. Jadikan bahasa Batak menjadi salah satu bahasa pengantar di rumah. Kita mulai dari rumah sendiri, orang tua terhadap anak dan sebaliknya, upayakan dibalas dalam bahasa Batak, kita lakukan setiap hari, nantinya akan terbiasa dan bisa. Lakukan juga, di arisan, atau lingkungan halak hita diluar rumah. Krim SMS, email dalam bahasa Batak terutama terhadap anak muda. Ditulis dengan benar juga.

Bila kita tidak mampu melakukan itu, jangan harap orang lain akan melakukan pelestarian bahasa Batak. Jadikan anak anak itu, hela, parumaen, cucu, bere mampu berbahasa Batak.

Anak anak & Nico Siahaan

Anak anak disebelah Nico Siahaan ini, sejak usia dini saya latih berbahasa Batak, kosa katanya semakin bertambah.

Akan saya ajari mereka mampu berbahasa Batak dan mahir berbahasa asing lainnya, tumbuh menjadi Batak Keren, agar bahasa Batak tidak punah di rumahnya kelak.

--- --- ---
Punahnya bahasa daerah dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah tersebut.


Dirumah kami, saya pastikan bahasa Batak tidak akan punah. Setiap hari mereka saya latih. Anak anak mahir beberapa bahasa, bahkan si kakak berprestasi pada lomba bahasa asing. Tapi saya katakan pada mereka, Papa lebih bangga bila kalian, mampu juga berbahasa Batak. Saya ingatkan, mereka tidak bisa jadi Badui, tidak bisa juga jadi Jahudi. Tidak bisa jadi Bugis dan tidak bisa jadi Prancis, jadilah Batak Keren, mampu berbahasa Batak dan bahasa asing lainnya.

Semoga artikel sederhana ini dapat mengingatkan kita, menjaga agar bahasa Batak dan bahasa daerah lainnya di Indonesia tetap lestari.


Charlie M. Sianipar

Selengkapnya...

MANOLSOL DIPUDI NDANG MARGUNA

Boasa songon na tungki jala dongon bohimu, eda Nai Longatiar, aha arsakmu huroha? Ninna nai minta tu Nai Longatiar. Ba aha ma da eda! So marsak situtu rohangku, ai ndang tarbereng ahu be donganku ala ni ilangku dohot haurahonku, lumobi ala pangula ni huria (parhalado) muse do amanta. O, taringot tu berengku si Longatiar i do na ni dokmu? Ninna nai Longatiar. Olo, i ma da eda! Ninna Nai Longatiar mangalusi. Ai beha huroha taringot tu si Longatiar i, ndang hea hubege taringot tusi ninna Nai Lampita manorohon hatana. A, ganjang do nian taringot tusi, ai huhilala, na parigat-rigat bulung ni gaol do hamu, pasigat-sigat bulung ni bulu, na mangarungkai hinadangol do hamu hamu laho paingot-ingot hinalungun. Alai hudok pe songon i hundul ma jolo satongkin asa hupajojor sidangolonhon. Dung i hundul ma nasida na tolu manguselleng manghatai.



Marbarita ma Nai Longatiar, didok: Silongatiar dope nian boru buhabajungku dilehon Debata. Dibahen las nirohangku hubahen ibana marsingkola, nunga tammat ibana sian S.P.G dua taon naung salpu, alai matua so adong penempatanna dibahen pamarenta. Nunga mulahulak ibana mambahen permohonanna asa ditempathon nian ibana, hape matua so adong do ingananna. Jadi gabe sai rap ma ibana dohot angka namarbaju na di hutanta on, alai apala dongan-donganna i ma si Mintasi naung tammat sian sikola Lanjutan Pertama. Jotjot ma nasida huida mardalan-dalan rap dohot doli-doli, apala di rondang ni bulan ma, didok nasida: ” Terang-terang bulan”. Ba sogo ma rohangku disi, ai nunga tung alo i tu pangkilalaanku, ai dang hea masa na songon i di haposoonniba. Muruk-muruk ma ahu tu si Longatiar i, unang sai didatdati be nian si songon i. Molo sai naeng mangkatai ho dohot doli-doli bat u bagasta ma nasida ro martandang, ningku ma tu ibana. Gabe jotjot ma hami pasual dohot ibana si ala ni i. Didok si Longatiar i ma tu ahu: ai dirimpu ho songon kolot ni hamu be hami naposo nuaeng, ai ndang diida ho angka baoa do dongan niba di parsingkolaan, ba ndang hea tarurak iba, binoto do mangaramoti, mangarajai diri niba. Dung i tung bahenon ma haurahon tu natorasniba dohot tu angka ibotoniba?

Alai atik pe songon i alusna ndang sonang rohangku tongtong do ibana hubadai, hupodai taringot tu parsaoranna na bebas i. Alai ianggo apala pajut dohot patunduk rohangku hata poda ni amanta do.

Didok amanta ma tu ahu: O, inang ni Longatiar unang pola sai marsoali ho dohot borunta si Longatiar taringot tu pargaulan, parsaoranna i rap dohot angka donganna magodang, ai nunga asing naposo nuaeng sian hita naposo najolo, ai bege ma, hupaboa hata ni sahalak sintua ni sada huria tu ahu Na sogo roha ni sintua i di pargaulan bebas ni angka naposo di huriana i, gabe dipangido sintua i ma tu guru ni huria i asa mandok sipaingot jolo ibana tu angka naposobulung i di tingki parguruendean nasida. Saut ma jongjong sintua i mandok hata sipaingot tu angka naposo bulung i taringot tu pargaulan bebas i. Godang do sijagaon disi, ninna sintua i. Alai dung sun sintua i mandok sipaingot i, jongjong ma sahalak namarbaju naung tatang pardagingonna, didok ma mangalusi sintua i. Amang, sintua, sintong situtu do sipaingot muna i, laos songon i do poda ni halak amanta dohot inanta tu ahu. Huihuthon ma poda nasida i, ndang olo ahu mandongani angka donganhu nabarbaju i mardalan-dalan bodarina, nang di torang ni bulan, lumobi mardonganhon doli-doli. Tinggal di jabu nama ahu hundul mangkulhul, manirat, manulam, mangarenda, hape ndang adong na ro manopot ahu, ala so ditanda halak be ahu, hape angka na tubu dipudingku nunga torop marmulian, gabe hatinggalan nama ianggo ahu. Umbege i gabe hohom ma sintua i.

Ahu pe dung hubege barita na sian amanta i hohom nama ahu. Hupasombu nama si Longatiar i di pargaulanna i, jala laos martandang modom ma ibana tu bagas ni si Mintasi donganna magodang i.

Hape dung adong manang piga bulan si Longatiar na marpargaulan bebas i. digora halak ma pardagingonna, ai nunga marbadan dua ibana. Dihatahon halak ma i tu hami. Hupamanat hami ma tutu pardagingon ni si Longatiar i, nunga sintong na pinadok ni jolma i. Marsak ma hami dohot dongan sabutuha dohot angka tondong, sisolhot.....

Bersambung...

Selengkapnya...

15 Mei 2009

Dainang Pangintubu

Dung lam matua iba, lam niingot ma sude poda ni natua-tua manorusi tu roha nang di angka na niula. Ndang lupa ahu di pangajarion ni dainang pangintubu, asa unang margabus. Tingki i marumur ma ahu hirahira 7 taon. Partiga-tiga do dainang pangintubu, jala dung ro ibana sian onan, disuru ma ahu mamilangi uangna dibahen di hadang-hadangan. Di tingki i masa do juji di angka dakdanak, jadi porlu ma uang asa boi marjuji. Tubu ma tu rohakku naeng mambuat, marhitehite mambahen salompitan sampulu sada lembar, (sasintongna ingkon 10 lembar do). Dung sidung hubilangi, hupaboa ma tu dainang pangintubu godang ni bilangan ni uang na i.

Didok dainang ma tu ahu ”bilang (etong) ma jolo amang sahalinari. Ai molo songoni do ndang adong be na huomo”. Marlobok ma tarontokhu hururut ma muse sada sian lompitan, alai hutinggalhon dope debanari salompitan 11 lembar. Hupaboa ma muse godangna tontu tamba ma sian na parjolo.

Didok dainang ma muse ”hurang tangkas dope i, amang hasian, tung etong damang ma jolo muse, ai molo songoni tong dope rugi ahu, hape mangihuthon paretonganhu adong do na huomo”. Marlobok ma muse tarontokhu gumogo sian na parjolo, pola hodohan ahu. Huetong ma muse, jala hururut ma debanari sadasada sian lompitan na, alai adong dope tinggal salompitan 11 lembar. Didok dainang ma tu ahu: ”Unang margabus ho amang”, ai hubilangi hian do i nangkin sian onan, na husursari do i, jala hudokon ho mangetong. Molo porlu di ho hepeng pangido tu ahu, alai palaho ma tu na denggan. Sai na dapot do pargabus, holan soal tingki do. Molo dung margabus, manangko ma muse, jala dang haposan be.

Dung olat ni na masa I, molo didokhon ahu mangetong uangna, sai ro ma tu rohakku, naung dietong dainang do on. Sahat tu sadarion, huingot do poda ni dainang i. Jala bangkol do ahu margabus.

Na lambok do dainang mangajari hami, ndang hea risi hatana, jala tung sude do hami mabiar margabus.

Digombarhon na masa on do, pendidikan ni ina pangintubu dibagasan halambohon, tung mansai manorusi do I tu ianakhonna.

Molo pinarateatehon do pangajarion nuaeng tu angka ianakhonta, jotjot do hita dibagasan muruk, hape jotjot ndang dioloi angka ianakhonta hita. Patut do didok angka natuatua: Hata na lambok tumajom do pangonaionna sian hata na koras”.

Sude do hita umbotosa ulaon ni supir. Molo di dalan na tigor i boi do supir mamboan hatop motor i, jala rem ni motor i tong do sai manat diparateatehon, jala molo adong bahaya hatop direm. Ndang hea supir mambahen hatop di dalan tekongan, songon hatopna di dalam na tigor. Songoni ma pambahen ni dainang tu hami. Adong do tingkina maminsang, jala adong do tingkina mangalehon semangat. Di hata nuaeng, on ma hape na nidokna: ” Kebijaksanaan”.

Sibasabasa do tu angka ina dilehon Tuhanta halambohon ai umumna sai lumambok do angka ina sian ama; atik pe adong sadasada rumisi ina sian ama. Nidok ni turpuk on, manorusi do pangajarion ni ina na lambok marhitehite pangulaon manogunogu ianakhonna.

Diketik ulang dari tulisan Drs. L .D Siagian
SP INA Mei 1985


Selengkapnya...

Bunga.. Khotbah yang hidup..

Bunga-bunga di dalam pot, yang tumbuh di pekarangan rumah

Tumbuh dengan perlahan, daun demi daun..ranting demi ranting tumbuh, lalu muncul bunga..ada yang layu..kering dan mati.

Bunga yang bertahan berproses..terjadi penyerbukan lalu menghasilkan buah dan biji. Biji jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi tunas-tunas baru.

Jika Setiap pagi kita mengamatainya dan menyiramnya. Setiap pagi juga akan ada perubahan meskipun sangat kecil. Terlihat tunas dan pucuk yang tumbuh semakin menjulang.

Satu hal yang pasti, dia selalu terlihat semakin baik setiap pagi.

Demikianlah hidup itu..bila kita sadar dan konsisten untuk berproses secara alamiah dalam spiritual kita..Niscaya hidup akan terasa semakin baik.

Disitu ada kesadaran bahwa Tuhan Memelihara hidup kita hari demi hari.

Hari ini harus lebih baik dari kemarin.


Bunga di dalam pot adalah khotbah yang hidup.

Jika kamu ingin memuliakan Tuhan dan menghargai kehidupan.. tanamlah Bunga.

Perbaungan, 30/09/08 6:51 A.M Selengkapnya...

KontraObsesi

Mengapa kita harus terobsesi dengan orang lain..

Sementara semua manusia punya jalan kehidupan masing-masing.


Jika dia sukses..

Maka saya juga sukses menurut ukuran saya sendiri..

Sebab tidak ada ukuran yang sebanding mengenai kesuksesan..

Kesuksesan itu relatif..


Apakah Sukses harus selalu diukur dengan materi ?

Apakah dengan pangkat, pekerjaan, titel atau kekuasaann..

Kurasa tidak..

Sebab ketika daun dan bunga mekar di pagi hari.

Atau bahkan ketika bunga kuncup dan layu di sore hari..

Itulah kesuksesan pada dirinya nya sendiri.


Ketika matahari terbit ia telah sukses melewati malam..

Dan ketika matahari tenggelam di senja hari..ia juga sukses menyinari sebagian sisi bumi.. untuk kembali sukses menyinari sisi dunia lain.


Detik demi detik , hari demi hari kita lalui.. setiap nafas yang terhirup adalah kesuksesan..

Dan ketika kita berhenti bernafas dan mati itu juga sebuah kesuksesan.

Sukses meninggalkan dunia yang fana ini.

Lalu jelaslah.. kegagalan itu tidak pernah ada..

Yang ada adalah sukses yang tertunda..

Perbaungan 081008 10.21 pm. Selengkapnya...

Repackage 2: Ide Aneh

Molo haccit ulu ..

alani karejo na so beres..dohot “target” na so tardungdung..

massam ma gabe nipikkiran..

apalagi ma muse molo nunga gabe na so tarhaulahan..

sai naeng ma niputar ” Mesin ” waktu..

asa mulak muse tu awal taon.. manang ari naung salpu..asa niulahan muse proses ni akka parkarejoan i..

Binaen muse program kerja..niatur muse sude akka anggota.. manang staff niba..

Olo ma daba mangapian iba… songon tu mesin Komputer si sonari..Windows XP ninna.. adong do disi perintah.. UNDO.. artina .. ba dibatalhon naung niparetta..

Manang molo naeng lebih “radikal”.. molo mengulah komputer-i.. misalna adong virus na manegai sistem operasi na i… ba boi ma attong nipiccit.. menu help.. SYSTEM RESTORE ninna disi..

ba mulak ma tutu tu kondisi awal..jadi boi niulahan tu tanggal piga iba mulak muse..

ba molo massam muse muncul akka na so niattusan di screen ni komputer i…manang molo adong virus na asing .. haccit ma ulu..niluluan anti virus tong gabe haccit ulu..

Olo ma gabe ni “install” ulang windows XP na i…

Molo naik spanning iba..

ba pittor ni PAMATE..SHUT DOWn ninna..

jadi songoni ma nian otak nji jolma i ate.? gantion nama gabe sistem operasi windows Xp.. dang pola pake Vista.. ale pake ma attong prosesor intel manang amd manang aha pe taho..

asa boi SHUT DOwn molo naeng modom iba borngin i…

dang pola gabe haccit ulu alani parkarejoan i…

Target…target.. target dan tercapai.. ba pitor ni ShUT Down huroa boha ?

asa boi..modom iba. Selengkapnya...

Repackage: Tentang seorang teman

Suatu kali saya menelepon seorang teman lama, seorang jurnalis yang belakangan tidak terdengar kabarnya.

“Halo Fren, Apa khabar “

“ Ohh, halo Laeku. Kabarku sehat Lae 1)..”

“ Lagi dimana nich.. kog dari tadi saya bell susah nyambungnya, udah sibuk sekali ya sekarang di lapangan, Lae ?” sambungku memancing pembicaraan lebih jauh.


“ Oh. Enggak ahh, tadi sinyalnya susah kali,bah. Ini aku udah di daerah ketinggian, suaranya jelas kan ?. Aku lagi di kampung nih, di Humbang “. Jawabnya dengan nada malu-malu.

Sayup-sayup terdengar suara jangkrik di mikrofon. Sepertinya memang tidak terdengar suara kebisingan.

Dulu, setiap aku menanyakan kabar tentang dia melalui “Hempon-nya” selalu terdengar sayup-sayup suara kebisingan kota atau juga suara seperti orang berada di dalam suatu seminar. Dan temanku ini selalu semangat membicarakan kegiatannya berkaitan dengan wacana pembaharuan UKM-lah, reforma Agraria-lah, pertemuan dengan kelompok buruh dan petani-lah sedang meliput aksi mahasiswa di DPRD-lah, sedang pelantikan pengurus ORSOSPOL ini itulah..
Aku tidak menyangka saat itu bisa berbicara dengan suaranya yang benar-benar full bersih.

“Di kampung? Wah hebat, nampaknya sedang di tengah ladang ini ya, Lae udah mengorganisir pendampingan petani sampai ke kampung halaman ya.“

“ Mengorganisir ? hehehe.. mungkin begitulah lae.. ini sebenarnya lebih tepat pulang kampung.”

“ Lho memangnya sudah berapa lama di kampung, lae ?”

“ Sudah empat bulan terakhir inilah, ya beginiliah dulu “

“ Nampaknya betah ya lae, bisnis apa ya di kampung, boleh donk ikutan “

“ Bisnis pengaruh, donk.” Saya kan di partai “anu” sekarang. Pokoknya ueeenaklah hidup di desa dengan kesederhanaan dan pola pikir yang agak jauh dibawah standar kita.”

“ Maksud, Lae, kampanye ?”

“ Iya Lae, Aku udah jadi Caleg no urut 1 disini, Awal bulan depan saya ke Medan. Kita ketemuan ya Lae. Saya mau ceritakan soal partai kita ini, bah “

“ Loh, kog sepertinya itu partai baru lagi ya Lae..dan agak ke-ordeordebaru-an. Bukannya dulu Lae di partai “XYJ” yang katanya radikal itu. sebagai wakil ketua DPD, dan kemaren udah sering nama lae muncul di Koran lokal, kenapa malah sekarang memilih ke Desa ?”

“ Ah, itu dulu, Lae, di Medan dengan partai XYJ itu sudah gak ada peluang, terlalu banyak saingan. Disini kampung halamanku gak ada kadernya. Taulah orang kampung, dengan modal S-2 dan kebesaran nama saya di koran sudah cukup potensial untuk batu loncatan ke DPRD tingkat 2.” Begitulah Politik Lae.

“ Wah rupanya, serius sekali lae mau jadi Caleg ya “.

“ Ya iyalah lae, dari dulu khan saya selalu serius. Oya, bagaimana dengan pekerjaan Lae, mantap? “

“ Yah sebagai buruh pasti ada suka dukanya, Lae, namanya juga di jalur profesi, perlahan katanya pasti, dijalani apa adanya saja lae. ”. Ucapku mantap.

“Oya, bagaimana keadaan istrimu, apa kalian sudah punya anak ?”. Lanjutnya bertanya.

“ Belum, tapi segera, Lae, sekarang isteri sedang mengandung 8 bulan, Doakan ya, Lae. Supaya ibunya sehat dan juga bayinya.”

“Oh Iya so pasti kita doakan.”

“Terus kamu sendiri bagaimana? apa kabar dengan si cewek adek jurusan kita itu ? kapan kau nikahi dia ? ”

“ Wah, kek nya ditunda lagi nih lae, saya gak kepikiran kesitu sekarang.”

“ Trus kapan, kita ini sudah diatas kepala tiga, tinggal kamu loh dari kawan-kawan seangkatan jurusan kita yang belum menikah.”

“ Gak masalah khan. Aku masih konsentrasi untuk pemilu ini.”

“ Kenapa harus nunggu pemilu, menikah itu gak diukur dari besar kecilnya pesta lho Lae.”

“ Iya sih, Lae. Tetapi aku benar-benar belum siap. Kalau memang dia mau dia akan menunggu.”

“ Wah, Kasihan donk anak orang udah dikejar umur, lagian kalian sudah lama pacaran khan, sudah 5 tahun lho , jangan-jangan udah “dalam” lagi ?”. Tak sengaja kata-kata “dalam” itu terucap olehku.

“ Hahaha..makan dalam mungkin ya, memang sudah lima tahun itu bukan ukuran, kalau ada yang lain yang lebih dasyat boleh juga, Lae”

“ Haha? lebih dasyat bagaimana? bisa aja kamu Lae, ini soal hati lho, aku kenal dia sebagai perempuan yang baik, anak gerakan lagi, jangan digituin, omong-omong memangnya dimana dia berada sekarang ?”

“ Sekarang dia bersama ortunya di Jakarta, kita sudah mulai jarang komunikasi, dabo. Habis bagaimana kami berdua sibuk mengejar impian masing-masing, sepertinya sudah mulai hambar’ holong 2) “ itu, fuang”

“ Wah, jadi begitu pulak ya. Bukan-nya dulu kalian berdua yang sering mengejek aku ini belum punya pacar. Tiap hari kalian lengket kayak lem tikus, ke kampus sama, orasi di jalanan sama, dikejar dan ditangkap aparat juga sama, seolah olah dunia ini milik kalian berdua, selepas kamu bekerja dan dia lulus sarjana katanya mau bikin pesta pernikahan sederhana dengan anak anak jalanan . Nah sekarang kamu udah sampai tamat S2, Mana buktinya kog malah aku duluan yang menikah dan punya anak”.

“Iya, ternyata hidup ini tidak seperti puisi cinta “ kaulah bulanku kaulah bintangku hidup matiku”- itu, Lae. Puisi cinta itu seperti sebuah idealisme yang hanya enak dikonsumsi oleh pelajar dan mahasiswa yang utopis. Bukan bagi seorang sarjana yang hidup dengan tuntutan sejengkal perut di bumi Indonesia yang jauh dari konteks “negara madani” seperti apa yang diajarkan konsep mata kuliah kita dulu.”

Berarti sia-sia donk puisi CINTA yang sudah kalian hambur-hamburkan dulu, Atau jangan-jangan sudah mendapat siraman cinta yang lain tuh cewek, Lae ?”

“ Enggak apalah, ntar bisa dicari lagi kog. Cinta itu tidak ubahnya seperti partai jaman sekarang kog, bisa dengan mudah pindah ke lain hati, iya khan..”
Tidak ada cinta yang sejati..yang ada adalah kepentingan yang sejati, Lae..”

“Bah, …”
“?!?!?!?”

Bla..bla..bla ..
Aku hanya bengong sejenak dengan pembicaraan dengan temanku itu sembari mengalihkan pembicaraan kepada Fenomena Harga TBS Kelapa Sawit yang kata media membuat seorang petani berniat bunuh diri…dan tentu saja ia akan penuh semangat berbicara dengan teori-teori ekonominya dari Adam Smith sampai Keynesian yang aku sendiri sudah lupa meskipun dahulu menjadi mata kuliah yang wajib.

Dia, temanku yang dulu begitu gencar membujukku hinga aku ikut bergabung dalam sebuah organisasi mahasiswa.
Temanku yang dulu dengan berapi-api mengajak aku membentuk sebuah Kelompok Diskusi di Jurusan..
Temanku yang akhirnya keluar dari organisasi mahasiswa karena “rival” denganku menjadi ketua..
Temanku yang kemudian mencari tantangan di kelompok Studi Mahasiswa yang katanya lebih greget..
Temanku yang dulu selalu datang ke kamar kostku membawa buku-buku ke-kirian dan mengajakku turun ke jalan..
Temanku yang terobsesi dengan Che-Guevara..dan Fidel Castro..
Temanku yang selalu berapi-api berorasi di “Bundaran SIB” dan di depan Kantor DPRDSU menyuarakan Revolusi, Reformasi Agraria sampai hapus BHMN..
Temanku yang memilih meninggalkan karirnya yang mulai cemerlang di perusahaan keuangan ternama dan beralih menjadi seorang wartawan..
Temanku yang sesekali menghubungiku untuk membujuk masuk di kepengurusan Organisasi Pemuda…
Temanku yang hampir merekrutku menjadi team suksesnya di organisasi politik.
Temanku yang kini menjadi Calon Legislatif..

Catatan:
1) Lae = panggilan persahataban di kalangan pemuda batak, ‘Lae’ dipakai sebagai pangilan kehormatan untuk hula-hula atau sumber isteri.
2) holong = perasaaan sayang

Selengkapnya...

14 Mei 2009

Balik Arah atau Terus?


Lokasi perkebunan negara yg berubah mjd lahan jagung rakyat.
Selengkapnya...

07 Mei 2009

Menghawatirkan..


Sebuah rental komputer di jl.Dairi Sidikalang berubah mjd game station anak SD. Di jepret pertengahan april 2009.
Selengkapnya...

Ada kesalahan di dalam gadget ini