. >>>

17 Juli 2009
Dibaca :

Menduga Pesan Pelaku BOM Mega Kuningan

... "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membeberkan salah satu temuan intelijen yang diterjemahkannya sebagai ancaman kepada dirinya. Temuan tersebut berupa beberapa lembar foto yang menggambarkan dua orang bertutup kepala hitam, tengah melakukan latihan menembak dengan menggunakan gambar Presiden sebagai target.

Foto-foto tersebut dipamerkan Presiden dalam konferensi pers di kantornya di kompleks Istana Jakarta, Jumat (17/7) siang, terkait dengan ledakan yang terjadi di kawasan Mega Kuningan pagi tadi
"...dst. dikutip dari KOMPAS.COM JUMAT, 17 JULI 2009 |14:32 WIB

Saya pikir, terlalu dini bagi seorang kepala negara untuk membeberkan hasil temuan intelijen seperti itu untuk kemudian mengeluarkan statemen. Apalagi mengaitkannya dengan Pilpres yang telah berlalu. Hal ini merupakan sebuah keblunderan politik yang tentunya akan mengundang reaksi dari pihak yang merasa dirugikan dengan statemen tersebut.

Bukankah masih banyak teori dan kemungkinan motif dibalik aksi yang tentunya sudah direncanakan secara terorganisir dan butuh waktu berbulan-bulan. Misalnya motif perang ekonomi antar negara sesama jiran dalam merebut kepercayaan dunia dalam bisnis pariwisata. Motif agama misalnya, ataupun motif separatis. Dan kalau kita mencoba menduga pesan yang mau disampaikan oleh pelaku mengapa harus mengambil momen pasca pemilu dan disaat hingar-bingar kunjungan salah satu klub sepakbola tersohor di dunia?

Yang pasti kita boleh saja menduga bermacam-macam. Tetapi tidak perlu membeberkannya secara dini. Untuk kebaikan bersama.[*]





Share





Artikel Lainnya

8 komentar:

liza mengatakan...

ya, saya setuju. seharusnya SBY jangan terburu menjudge.

Henny Y.Caprestya mengatakan...

sebenarnya perlu juga kalo hal yang seperti itu langsung diberitakan, mungkin SBY menegaskan adanya sanksi tegas kepada siapapun yang mencoba melakukan aksi tersebut.

Ani mengatakan...

Hmm...tadi sempat nonton rekamannya di TV... mungkin pak SBY punya pandangan yang berbeda dengan Mahir...

Newsoul mengatakan...

Saya setuju dengan pendapatmu Mahir. Terlalu dini mengemukakan hal tersebut poada saat masayarakat sedang shock, butuh pengayoman dan rasa aman. Seharusnya pendapat-pendapat agak sentimentil tersebut direm dulu, diendapkan dulu supaya tidak menimbulkan adu wacana di masyarakat. Yah, semoga kita semua menemukan solusi bagaimana agar kejadian seperti ini tidak terulang.

Ke Sidikalang bawa kopi gak ?, kopi Sidikalang mantap dan maknyus rasanya.

Newsoul mengatakan...

Yah, saya setuju pendapatmu Mahir. Terlalu dini bila beliau kita itu mengeluarkan wacana seperti itu pada saat masyarakat sedang shock, butuh pengayoman, dan perlindungan. Seharusnya pendapat-pendapat agak sentimentil tersebut direm dulu, diendapkan dulu (sambil terus diselidiki secara intens dugaan tersebut), tidak dilempar begitu saja. Yah, semoga kita mendapat solusi terbaik agar kejadian ini tidak terulang lagi. Semoga otak jaringan pelaku segera tertangkap.

lilliperry mengatakan...

konspirasi.. konspirasi...
terlalu banyak kemungkinan.. :)

eha mengatakan...

Bisa jadi ada hubungannya, bisa juga sama sekali tak ada. Alangkah baiknya menahan diri agar tak semakin membingungkan rakyat.

reni mengatakan...

Memang menurutku sih sebaiknya hal tersebut tak perlu diungkap karena justru akan membuat keresahan. Mungkin saja SBY saat itu sedang sangat emosi karena biasanya kan SBY cenderung bersikap terlalu hati-2 ?

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini