. >>>

05 Agustus 2009
Dibaca :

Si Porman dan Amani Porman

Sabtu malam, saat itu Pukul 19.30, seperti biasa selepas makan malam bersama dalam suasana hening menjurus kaku dan sakral, anggota keluarga Amani Porman akan bergerak mengambil kegiatan masing-masing. Basa-basi dan canda tawa bukanlah hal yang biasa dalam keluarga Batak itu, yang oleh Amani Parman dikelola dengan sangat ketat aturan.

Tidak terkecuali dengan tante Mawan, gadis panglatu yang sudah dianggap bagian anggota keluarga akan mengambil kesibukan membereskan piring di dapur. Si Ibu (nai Porman) seperti biasanya bergegas meraih Remot TV dan menonton sinetron kesukaannya. Sedang Amani Porman yang sudah lelah seharian menderek Truk tronton bawaannya, memilih duduk di teras rumah bertelanjang dada mencari angin dan menjalankan ritualnya; menciptakan awan kecil di udara dari kuluman tembakau bercampur cengkeh dan kemenyan. Angan dan pikirannya terbang mengikuti awan kecil menyengat itu ke arah Lae Pondom tempat truk sedang terduduk ”patah as” dan nasib 2 ton biji Kopi Ateng kering milik si Toke yang harus diantar ke kota Medan.

Porman si anak sulung, duduk di bangku kelas 2 SMA, yang sedang bingung mencari alasan untuk keluar malam, dengan gundah memasuki kamarnya dan mulai menyetel lagu Batak andung-andung kesukaannya. Galau hatinya, tadi siang sepulang sekolah ia telah berjanji untuk datang malam mingguan ke rumah Heppi pujaan hatinya. Gadis hitam manis yang tinggal di kompleks Asrama Polisi Resort, 2 Kilometer dari rumah Porman. Jangankan untuk mengunjungi pujaan hatinya, melihat raut muka amani Porman yang kaku beku sedingin udara Kota Sidikalang itu, nyali kelaki-lakian Porman untuk minta izin keluar rumah menjadi kisut sekisut buah zakarnya. Bagaimana tidak kisut, sore harinya ia sudah keringat dingin membayangkan untuk pertama kali akan bertemu dengan Ayahnya Heppi, seorang Polisi berpangkat Aiptu, sudah hitam, tinggi besar dan berkumis pula.
Porman benar-benar bingung memikirkan cara untuk tampil jantan dengan menahan raut muka putihnya yang kerap berubah warna menjadi merah tomat dan sikap gugupnya yang sering menjadi bahan olokan teman sekelasnya itu.

Sementara kedua adik perempuannya Rosna dan Risna, puteri kembar yang sama-sama duduk di kelas 2 SMP mulai mencari posisi strategis dibelakang Nai Porman untuk bisa mencuri pandang menonton sinetron Cinta Fitri saat itu.

”Stt..kalau mau nonton jangan didekatku kau, adek”, ujar Rosna kepada kembarannya Risna
”Wih, siapa pula yang mau duduk di dekatmu? Kau aja bau belom mandi.” Jawab Risna santai

“Eeh, aku mandi ya..”

“Mandi kog masih bau?”

Siapa yang bau? Kamu yang bau!”, balas Rosna secepat tangan kanannya menepis kepala Risna.

Nai Porman yang mulai merasa tergangu dengan kedua puterinya mulai memencet remote menaikkan volume TV.

” Awas kau, kubilangi sama bapak ya ” ujar Risna dengan raut muka cemberut

” Hehe, bilangin apa?, aku juga bisa bilangin bapak kalau kau puisi-puisian cinta dengan cowokmu itu”. Jawab Rosna menguatkan suaranya

” Ihhh, apaan, kau bacai dyari-ku? Kau yang udah men-cowok ”, Risna tidak mau kalah menaikkan volume suaranya

Nai Porman kembali menaikkan volume TV. Sinetron Cinta Fitri sedang serunya.
Di kamarnya Porman yang terganggu dengan suara TV, sedikit kesulitan mencerna lirik lagu juga menaikkan volume radio AM-nya.

“Kau mencowok..!” kata Risna

“ Enggak..Kau !”, jawab Rosna

Rosna dan Risna kini semakin keras berbicara saling mengancam membeberkan affair masing-masing.

“Rosna ceweknya si Amres..”

“Weee.. Risna ceweknya si Joel ”

Semakin keras juga Nai Porman menyetel volume TV.
Saat bersamaan di dapur si Bleki dan si Bruno saling menyahut berebut sisa kepala ikan yang dibuang oleh tante Mawan.
Kini suasana rumah menjadi meriah seketika.

Hingga buyarlah angan-angan Amani Porman oleh spontanitas kebisingan itu. Dengan muka merah padam ia masuk ke dalam rumah dan menampar dingding yang terbuat dari papan.

Hoiii !!! ai begu aha na masuk tu jabuon ?" (Setan apa yang masuk kerumah ini?), Teriak Amani Porman dengan garang menghenyak mereka yang berada di ruang tengah itu.

Mendengar suara itu Porman keluar dari kamar dan terdiam.

Ai mahua huroa Bapa?" ( Ada apa ayah?), Tanya Porman dengan raut muka pucat.

Ai ho pe sada Porman.., logumu andung-andung dipagogo ho sian kamar mi..ai na so mangolu do pidong mi ? ia lao ho tu ruar- an manandangi nabarbaju unang hubege ho ribut disi.
(Kamu juga Porman, lagumu itu sedih tapi bising, apa gak hidup kemaluanmu itu? Pergilah keluar mengunjungi teman wanita daripada kudengar suara lagumu yang sedih-sedih itu!), ujar ayah dengan jengkel kepada Porman.


Ibu Porman, Rosna dan Risna yang tadinya terdiam.. tiba-tiba tertawa, ”hahahahahaha..”

Menyadari ucapannya Amani Porman sedikit tersipu malu dan bergegas ke arah dapur dan meraih sapu lidi.

"Husss, pigii!!!.. akka jolma te- do biang songon on !"

Seandainya si Bleki dan si Bruno mengerti arti ”jolma te”, mungkin tidak sekedar gencatan senjata yang terjadi terhadap sengketa kepala ikan itu.

Tante Mawan yang ketakutan sekaligus merah muka menahan tawa hanya terdiam menyaksikan si Bleki dan si Bruno lari terbirit-birit.

Kaing..kaiiingg..kainggg..
[*]
Dieksploitasi dari pikiran simahir Prb. 05 08 09








Share





Artikel Lainnya

6 komentar:

Henny Y.Caprestya mengatakan...

aduh bang,,henny ga ngerti bahasa batak. tapi sedikit mengerti tentang cerita lucu ini.
sekarang mau ketawa boleh?
hahahahahahahha...:D

Tukang Komen mengatakan...

wa..ka..ka..ka... ikutan ketawa ja deh.....

Story of Jaiman mengatakan...

nanti kalau saya sudah nemu, saya kasih kabar mas

Celetukan Segar mengatakan...

Simahir, bakat banget jadi penulis cerpen.
Ceritanya mengalir dengan deras, penuh dengan permainan emosi!

eha mengatakan...

Sebagian aku ngerti sebagian ndak, bang Mahir. Walau begitu aku tetap menikmati cerita ini.
Kalau aku jadi si Porman, aku langsung terbang ke rumah pacarku begitu Amani Porman bilang begini 'ia lao ho tu ruar- an manandangi nabarbaju unang hubege ho ribut disi' ;)

Risma Hutabarat mengatakan...

cerita khas keluarga batak ^_^
suara boleh keras, tapi hatinya tetap lembut. Kalau istilah rame-ramenya:
"Tampang Rambo, tapi hati Rinto"

Hahahaha

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini