. >>>

12 Agustus 2010
Dibaca :

Citaman Jernih

Aku tak habis pikir mengapa orang menyebut kawasan ini dengan nama itu. Dan memang sampai hari ini aku tidak juga mendapat informasi asal muasal nama ini. Aku memang tidak serius untuk tahu, sejauh ini.

Yang kutahu pasti, setiap pagi aku lebih suka melewati kawasan jalan ini menuju ke kantor tempatku mencari penghasilan. Selain karena jarak tempuh lebih dekat, aku memang telah termotivasi dengan kata-kata jernihnya, meski yang dilewati ada dua sungai namun sungai ini lebih tepat disebut sebagai parit comberan besar tempat semua aktivitas warga: mandi-cuci-kakus. Jelas airnya jauh dari kesan jernih. Hanya saja melewati kawasan Citaman Jernih di pagi hari akan mendapat berkah sinar mentari pagi yang cukup dan terhindar dari kemacetan.

Pabila di siang hari melintasi kawasan ini akan terlihat lengang dan sangat tenang. Didukung oleh keberadaan kebun sawit di salah satu sisi jalan. Tidak terlihat keramaian warga, mungkin sebahagian besar sibuk bekerja di tempat lain.

Demikian juga sore hari, perjalanan pulang akan terasa cepat sampai karena sangat jarang kemungkinan terhalang oleh kenderaan lain. Membawa rasa capai dan penat dari kantor tidak akan butuh waktu lama untuk segera ditelan oleh dedaunan kelapa sawit.

Agak berbeda situasinya sore tadi ketika aku melewati kawasan ini. Kiri kanan terlihat banyak pedagang berjualan macam-macam, banyak juga warga yang sepertinya antri menunggu pesanan makanan. Tiba-tiba saja terlihat banyak kerumunan pengendara motor disana sini yang sembarangan parkir. Jalanan pun terlihat lebih padat dari biasanya, sibuk dan semuanya buru-buru. Beberapa kali aku harus injak rem tiba-tiba oleh ulah pengendara sepeda motor yang umumnya dengan kecepatan tinggi menyalip dan memotong. Kenapa semua pengendara kelihatan agak galak dan beringas? Ada apa dengan Citaman Jernih ini?

Aku baru sadar kini setelah sampai di rumah, tadi di jalan itu sudah menjelang magrib. Hari pertama saat mau berbuka. Semua berburu waktu setelah mungkin satu hari penuh menahan lapar dan emosi.

Kuketik ini malam ini, dibayangi letupan petasan berbalas-balasan di luar pagar dan cekiki an anak-anak tanggung di komplek. Sekali lagi, ini tidak seperti hari biasanya. Harus lebih sabar menahan emosi dan ego diri.[*]





Share





Artikel Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini