. >>>

Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan

01 Februari 2011

Uang Langka Soekarno Rp.1,-

Tadi siang saya bermaksud pangkas rambut. Saya melihat si abang tukang pangkas memiliki beberapa Koleksi uang Tempo Doeloe, dari sejak tahun 1954 sampai tahun 90-an. Koleksi uang kuno ini dipajangkan begitu saja di cermin besar. Maklum dia hanya Seorang Tukang pangkas bukan kolektor profesional. Dengan semangat ia bercerita dan mempromosikan koleksinya pabila ada yang berminat. Oleh karena itu saya berniat membantunya dengan mempublish di blog ini. Bagaimana, adakah kalian yang berminat? [*] Selengkapnya...

06 Oktober 2009

Perbedaan Kebiasan antara Orang Susah dan Orang Bahagia

Penelitian yg dilakukan oleh sosiolog di Universitas Maryland menyatakan bahwa orang-orang yg susah cenderung nonton acara televisi lebih banyak, sementara mereka yg terbilang bahagia cenderung menghabiskan waktu mereka untuk membaca dan bersosialisasi.
Penelitian ini dilakukan selama 30 tahun terhadap 30.000 orang dewasa dalam serangkaian survei tentang perilaku sosial. Para peneliti tersebut melaporkan bahwa menghabiskan waktu untuk menonton televisi bisa menimbulkan kebagiaan selama sesaat bagi seseorang, namun hanya sedikit saja dampak positif untuk jangka panjang.

John P. Robinson, salah satu pakar sosiolog mengatakan, “Televisi tidaklah mampu membuat seseorang merasa bahagia atau terpuaskan dalam jangka panjang sebagaimana yg bisa didapatkan dari membaca buku dan berinteraksi dg orang2. Data yg ditemukan menunjukkan bahwa kebiasaan menonton televisi memberikan kesenangan jangka-pendek namun perasaan sakit (perasaan) atau tak nyaman dalam jangka panjang. Menonton televisi adl aktivitas pasif dan bisa memberikan tempat untuk melarikan diri semisal dalam kondisi krisis ekonomi. ” Berdasarkan data yg didapat, Robinson memproyeksikan bahwa aktivitas menonton televisi akan meningkat secara drastis sejalan dg kondisi perekonomian yg diperkirakan memburuk dalam beberapa bulan atau tahun ke depan.
Para peneliti juga menemukan bahwa orang2 yg merasa dirinya bahagia memiliki aktivitas sosial yg lebih tinggi, menghadiri acara2 sosial dan keagamaan lebih sering, dan juga membaca buku, majalah atau koran. Orang yg mengaku tidak bahagia sebenarnya juga melakukan hal itu, namun mereka menonton televisi 20 persen lebih banyak ketimbang membaca dan bersosialisasi.
Data responden menyatakan bahwa menonton televisi memang aktivitas yg lebih mudah dilakukan ketimbang bersosialisasi. Orang yg menonton televisi tidak perlu pergi ke manapun, ya tinggal duduk aja di depan tivi, dia juga tidak perlu repot ganti baju dan berdandan, mencari teman untuk membarengi, mbikin rencana dan janjian, mengeluarkan tenaga dan uang, pokoknya gampang. Dengan ditambah efek kesenangan seketika yg bisa didapat dg menonton televisi, maka bisa dipahami jika kebanyakan orang (di Amerika) menghabiskan lebih dari separuh waktu luang mereka untuk menonton televisi.
Berbeda dg orang2 yg bahagia, orang2 yg sengsara juga cenderung merasa bingung bagaimana memanfaatkan waktu luang mereka dan di sisi lain juga merasa diburu-buru oleh waktu. Orang yg menonton televisi karena tak punya alternatif aktivitas yg lebih bermanfaat akhirnya akan sedemikian terlarut hingga kemudian dia baru menyadari betapa banyak waktu yg telah dihabiskan untuknya.
Punya banyak atau cukup waktu luang, tapi tak tahu bagaimana memanfaatkan, itu dia masalahnya.
Padahal pemuasan sesaat dg televisi ini bisa menimbulkan efek kecanduan. Steve Martin, peneliti dari Universitas Maryland mengatakan, “Dan efek kecanduan ini tentunya menghasilkan kesenangan sementara namun penyesalan dalam jangka panjang. Mereka yg sudah terkena kecanduan televisi akhirnya akan kurang diuntungkan baik secara pribadi maupun kehidupan sosialnya.”

Sumber: University of Maryland
Selengkapnya...

21 September 2009

Duarr..Duarr..Dduddumm…

Duarr..
Bunyi petasan tepat di atas rumah menyentak jantungku.

Teringat tahun 2000.
Saat itu siang hari masih jam perkuliahan, di kampus FE USU, seorang mahasiswa senior meletupkan petasan di bawah tangga- tempat nongkrong sekelompok mahasiswa.
Temanku berteriak. " Woi, dasar mahasiswa tak punya otak kau, main petasan pulak kau disini !"

Segera terjadi perang mulut yang memicu perkelahian. Berlanjut saling ejek dan saling memaki, lalu tawuran antar mahasiswa 2 jurusan meledak seketika hari itu juga. Aku terlibat karena naluri mudaku membela teman se-jurusanku.
Untung saja saat itu satpam kampus bertindak cepat, sehingga tidak sampai terjadi tikam-tikaman dan bakar-bakaran.
Dalam 1 bulan dendam antar mahasiswa yang terlibat tawuran pun baru bisa mereda setelah dimediasi oleh Bapak Dekan dan Pemerintahan Mahasiswa (PEMA).

Kalau saja tidak mengingat kejadian itu..mungkin malam ini aku sudah berkelahi (lagi).

Aku heran,
Kenapa masyarakat kita suka berlebihan merayakan sesuatu?
Dan mengapa permainan petasan ini sering justeru dilakukan oleh orang dewasa?
Dan mengapa pula harus egois tidak memikirkan kenyamanan orang lain?
Tidakkkah kita bisa melihat dan mendengar bahwa di sana, di Palestina dan Israel banyak umat yang merindukan ketenangan seperti yang kita miliki saat ini.
Tidakkah kita gerah ketika Legian Bali dan JW Marriot meledak?

Lalu mengapa kita harus memancing peperangan dengan mengusik ketenangan sang malam ? [*]

Selengkapnya...

10 September 2009

Nama Alias Nickname

Pernahkah anda kesulitan mencari seseorang kenalan baru di suatu kompleks atau daerah ?
Meski sudah menyebutkan nama lengkap orang yang dicari ternyata sering kita dapatkan kenyataan bahwa tak seorangpun mengenal yang bersangkutan. Sudah bertanya kepada penduduk setempat malah serasa di bola-bola hingga memakan waktu dan menguras tenaga.

Mencari seseorang dengan alamat yang cukup lengkap di tangan kiranya tidaklah sulit. Tetapi ada kalanya pencarian menjadi sulit dan memakan waktu lama oleh karena sistem tata jalan di Kota umumnya di Indonesia tidak cukup lengkap menampilkan penunjuk jalan atau keterangan wilayah seperti yang ada dalam tanda pengenal ataupun alamat surat yang dituju. Hal ini sering menyulitkan bagi petugas Pos ataupun pekerjaan survey lapangan baik perusahaan leasing ataupun bank. Kondisi ini akan lebih lebih parah apabila kita mencari alamat di pedesaan ataupun Dusun.

Pengalaman saya setelah beberapa tahun bekerja di lapangan menunjukkan bahwa penduduk yang tinggal berdekatan di suatu komplek umumnya tidak mengetahui nama lengkap penduduk lainnya. Bahkan kecenderungan nama yang tercantum di tanda pengenal (KTP dan SIM) tidak selalu sama dengan nama panggilan ataupun nama alias. Akan lebih cepat melacak orang yang dicari dengan menyebutkan nama alias ataupun nama panggilan seperti ” si Ucok”, Si Kumis, ”si Jawa”, ”Mama Pereddi”, ”Om Kidal” dan sebagainya.

Nama alias (Nickname-Inggris) umumnya adalah gelar panggilan yang diberikan penduduk setempat terhadap seseorang terkait dengan karakteristik maupun ciri-ciri fisik khusus yang dimilikinya. Nama alias ini menyebar dari mulut ke mulut dan bukan karena diperkenalkan ataupun satu acara pengumuman khusus dari yang bersangkutan. Oleh karena asal muasal nama ini tentunya jangkauan popularitas si pemilik nama alias menjadi luas. Bila anda menyebutkan nama sesuai KTP mungkin tetangga sendiri tidaklah mengenal. Tetapi sekali anda menyebutkan nama alias maka bukan tidak mungkin penduduk satu kecamatan akan tahu dan langsung menunjukkan lokasi tempat tinggal ataupun keberadaan yang bersangkutan.

Nah saran saya, mulai saat ini apabila anda berkenalan dengan teman baru jangan lupa untuk menanyakan nama panggilan atau nama aliasnya. Selain sangat berguna kelak tentu saja hubungan persahabatan akan lebih cepat terasa hangat dan akrab apabila anda menyebutkan nama panggilan teman anda. [*]
Published under:http://simahir.blogspot.com
Selengkapnya...

29 Juli 2009

BUSHRO mengklaim, sensasi Intelijen atau kontra intelijen



Puehhh..!!!
Bursik !
Bulshit !!

Tiba-tiba ada yang berani muncul bikin pernyataan Nurdin M Top di internet di Blog BUSHRO. Dan tentu saja kehebohan secepat kilat melanda Internet dan seluruh Indonesia.

Entah dagelan macam apa lagi ini. Blog yang dinamakan BUSHRO ini dibuat pada bulan Juli 2009 dan hanya terdapat satu postingan berjudul; media tandzim al qo'idah indonesia : isinya adalah keterangan resmi tandzim al qo'idah indonesia atas amaliyat jihadiyah istisyhadiyah di hotel JW dan RC.
Pengunjung blog lansung meledak mencapai 15.000-an dan 500 pengikut. Fantastis !

Saya menilai bahwa masyarakat Indonesia tidak akan sebodoh itu untuk percaya terhadap berita tersebut. Mempelajari pola masa lalu aksi teror di Indonesia yang selama ini betul-betul berdarah dingin 100 %, belum tentu blog ini adalah buatan nurdin m top cs.

Kenapa pula nama blognya BUSHRO?.. "BUSH-RO"?
Mungkin saja hanya buatan orang iseng yang ingin cari sensasi, tetapi apa untungnya sebuah sensasi? Aku pikir ada skenario yang lebih besar dibalik itu. Ada Grand Design perang dalam dunia Intelijen dan kontra intelijen. Mungkin ada kaitannya juga dengan asing dan perang global terhadap terorisme dengan memanfaatkan kebebasan publikasi internet untuk mempengaruhi media. Saya pikir inilah kasus yang maha sulit dimengerti tetapi juga yang dengan mudah dipermainkan oleh mereka yang ahli di bidang tersebut.

Daripada capek dipermainkan oleh media mending tak usah ditanggapi berlama-lama. Kita serahkan saja kepada BIN dan POLISI, karena ini memang urusan mereka. Bukan urusan masyarakat sipil biasa. [*]



Selengkapnya...

24 Juli 2009

Uang Palsu..Waspadalah !!


Seorang teman saya menemukan uang palsu pecahan Rp 50.000. Secara kasat mata, mungkin kita tidak bisa menduga lembaran uang itu palsu. Karena sama persis dengan uang pecahan 50.000 yang asli; memiliki benang pengaman, nomor seri maupun tanda gambar air. Hanya saja ketika diraba kertasnya terasa lebih lembut , warna terlihat kusam, serta mudah luntur dan yang lebih meyakinkan kami adalah bahwa ketika di taruh dibawah sinar ultraviolet tidak ada bagian tertentu yang bersinar.

Uang palsu pecahan 50.000 ini tampaknya adalah hasil cetakan yang sangat canggih, hanya jenis kertasnya terasa halus kalau diraba permukaannya. Pada uang asli akan terasa teksturnya bila diraba dan memiliki pengaman.
Pengaman tersebut antara lain berupa benang pengaman, tanda air yang biasanya bergambar pahlawan nasional, cetak timbul yang bisa diraba serta beberapa bagian yang bersinar apabila dilihat dengan sinar ultraviolet.

Dengan sedikit perdebatan akhirnya saya bisa meyakinkan teman itu untuk tidak bermain-main dengan uang palsu tersebut.
Menurutku, melacak asal-usul uang tersebut sungguh pekerjaan yang sulit mengingat telah banyak orang yang dijumpainya dan bertransaksi sejak pagi tadi. Sedangkan saranku untuk melaporkan ke Polisi atau ke BI sama sekali hanya membuatnya tertawa dengan sinis terhadapku.
Baginya, hal itu adalah pekerjaan yang menyita waktu dan merepotkan. Sementara Kalau diedarkan kembali malah berisiko lebih berat (dan juga DOSA: gituloh...).
Akhirnya ia memilih membakar saja uang tersebut dan merelakan kerugian Rp. 50.000,-.

" Buang sialku-lah itu, hari ini", katanya.

Kupikir itu adalah keputusannya yang tak boleh kukomentari lagi.
Sebaiknya teman –teman waspada terhadap peredaran uang palsu saat ini, agar kejadian ini tidak menimpa anda dan juga orang lain .[*]



Selengkapnya...