Sabtu malam, saat itu Pukul 19.30, seperti biasa selepas makan malam bersama dalam suasana hening menjurus kaku dan sakral, anggota keluarga Amani Porman akan bergerak mengambil kegiatan masing-masing. Basa-basi dan canda tawa bukanlah hal yang biasa dalam keluarga Batak itu, yang oleh Amani Parman dikelola dengan sangat ketat aturan.
Tidak terkecuali dengan tante Mawan, gadis panglatu yang sudah dianggap bagian anggota keluarga akan mengambil kesibukan membereskan piring di dapur. Si Ibu (nai Porman) seperti biasanya bergegas meraih Remot TV dan menonton sinetron kesukaannya. Sedang Amani Porman yang sudah lelah seharian menderek Truk tronton bawaannya, memilih duduk di teras rumah bertelanjang dada mencari angin dan menjalankan ritualnya; menciptakan awan kecil di udara dari kuluman tembakau bercampur cengkeh dan kemenyan. Angan dan pikirannya terbang mengikuti awan kecil menyengat itu ke arah Lae Pondom tempat truk sedang terduduk ”patah as” dan nasib 2 ton biji Kopi Ateng kering milik si Toke yang harus diantar ke kota Medan.
Porman si anak sulung, duduk di bangku kelas 2 SMA, yang sedang bingung mencari alasan untuk keluar malam, dengan gundah memasuki kamarnya dan mulai menyetel lagu Batak andung-andung kesukaannya. Galau hatinya, tadi siang sepulang sekolah ia telah berjanji untuk datang malam mingguan ke rumah Heppi pujaan hatinya. Gadis hitam manis yang tinggal di kompleks Asrama Polisi Resort, 2 Kilometer dari rumah Porman. Jangankan untuk mengunjungi pujaan hatinya, melihat raut muka amani Porman yang kaku beku sedingin udara Kota Sidikalang itu, nyali kelaki-lakian Porman untuk minta izin keluar rumah menjadi kisut sekisut buah zakarnya. Bagaimana tidak kisut, sore harinya ia sudah keringat dingin membayangkan untuk pertama kali akan bertemu dengan Ayahnya Heppi, seorang Polisi berpangkat Aiptu, sudah hitam, tinggi besar dan berkumis pula.
Porman benar-benar bingung memikirkan cara untuk tampil jantan dengan menahan raut muka putihnya yang kerap berubah warna menjadi merah tomat dan sikap gugupnya yang sering menjadi bahan olokan teman sekelasnya itu.
Sementara kedua adik perempuannya Rosna dan Risna, puteri kembar yang sama-sama duduk di kelas 2 SMP mulai mencari posisi strategis dibelakang Nai Porman untuk bisa mencuri pandang menonton sinetron Cinta Fitri saat itu.
”Stt..kalau mau nonton jangan didekatku kau, adek”, ujar Rosna kepada kembarannya Risna
”Wih, siapa pula yang mau duduk di dekatmu? Kau aja bau belom mandi.” Jawab Risna santai
“Eeh, aku mandi ya..”
“Mandi kog masih bau?”
Siapa yang bau? Kamu yang bau!”, balas Rosna secepat tangan kanannya menepis kepala Risna.
Nai Porman yang mulai merasa tergangu dengan kedua puterinya mulai memencet remote menaikkan volume TV.
” Awas kau, kubilangi sama bapak ya ” ujar Risna dengan raut muka cemberut
” Hehe, bilangin apa?, aku juga bisa bilangin bapak kalau kau puisi-puisian cinta dengan cowokmu itu”. Jawab Rosna menguatkan suaranya
” Ihhh, apaan, kau bacai dyari-ku? Kau yang udah men-cowok ”, Risna tidak mau kalah menaikkan volume suaranya
Nai Porman kembali menaikkan volume TV. Sinetron Cinta Fitri sedang serunya.
Di kamarnya Porman yang terganggu dengan suara TV, sedikit kesulitan mencerna lirik lagu juga menaikkan volume radio AM-nya.
“Kau mencowok..!” kata Risna
“ Enggak..Kau !”, jawab Rosna
Rosna dan Risna kini semakin keras berbicara saling mengancam membeberkan affair masing-masing.
“Rosna ceweknya si Amres..”
“Weee.. Risna ceweknya si Joel ”
Semakin keras juga Nai Porman menyetel volume TV.
Saat bersamaan di dapur si Bleki dan si Bruno saling menyahut berebut sisa kepala ikan yang dibuang oleh tante Mawan.
Kini suasana rumah menjadi meriah seketika.
Hingga buyarlah angan-angan Amani Porman oleh spontanitas kebisingan itu. Dengan muka merah padam ia masuk ke dalam rumah dan menampar dingding yang terbuat dari papan.
Hoiii !!! ai begu aha na masuk tu jabuon ?" (Setan apa yang masuk kerumah ini?), Teriak Amani Porman dengan garang menghenyak mereka yang berada di ruang tengah itu.
Mendengar suara itu Porman keluar dari kamar dan terdiam.
Ai mahua huroa Bapa?" ( Ada apa ayah?), Tanya Porman dengan raut muka pucat.
Ai ho pe sada Porman.., logumu andung-andung dipagogo ho sian kamar mi..ai na so mangolu do pidong mi ? ia lao ho tu ruar- an manandangi nabarbaju unang hubege ho ribut disi.
(Kamu juga Porman, lagumu itu sedih tapi bising, apa gak hidup kemaluanmu itu? Pergilah keluar mengunjungi teman wanita daripada kudengar suara lagumu yang sedih-sedih itu!), ujar ayah dengan jengkel kepada Porman.
Ibu Porman, Rosna dan Risna yang tadinya terdiam.. tiba-tiba tertawa, ”hahahahahaha..”
Menyadari ucapannya Amani Porman sedikit tersipu malu dan bergegas ke arah dapur dan meraih sapu lidi.
"Husss, pigii!!!.. akka jolma te- do biang songon on !"
Seandainya si Bleki dan si Bruno mengerti arti ”jolma te”, mungkin tidak sekedar gencatan senjata yang terjadi terhadap sengketa kepala ikan itu.
Tante Mawan yang ketakutan sekaligus merah muka menahan tawa hanya terdiam menyaksikan si Bleki dan si Bruno lari terbirit-birit.
Kaing..kaiiingg..kainggg..
[*]
Dieksploitasi dari pikiran simahir Prb. 05 08 09
Selengkapnya...
. >>>
05 Agustus 2009
Si Porman dan Amani Porman
17 Mei 2009
AYO LESTARIKAN BAHASA BATAK
Kutipan dari Tulisan Charles M. Sianipar
(Permisi ya Pak, saya kutip tulisannya )
BAHASA BATAK TERANCAM PUNAH
Share
24 October 2008 at 00:17
Judul artikel ini bisa dianggap tidak mungkin atau malah sependapat dengan saya.
Karena usia yang masih muda, saya melihat dari dua sisi, orang tua dan generasi muda. Agar bahasa Batak tetap lestari tentunya harus selalu digunakan, minimal diajarkan ke generasi berikutnya, bila proses itu sudah tidak berjalan, terancam punah, sirna.
Kita lihat di kota kota besar, Jakarta, Bandung, bahkan di Medan dan Pematang Siantar, anak anak muda sekarang sudah banyak yang tidak mampu menuturkan bahasa Batak ini dengan baik. Sebagian ada yang masih mampu, tetapi sangat tidak beraturan, sebahagian lagi ada yang mengerti, tapi tidak mampu menuturkannya. Bahkan sebagian orang tua ada yang mengatakan, ai ndang diboto dakdanak on be marhata Batak, nunga tubu dison (dikota) nasida :-(
Melihat kondisi diatas, ada yang salah dalam diri kita.
Menurut si anak mereka tidak salah, mereka menyalahkan generasi diatasnya, orang tua. Orang tua menganggap si anak tidak mau belajar.
Seharusnya orangtua mengajarkan dan melatih si anak dari usia dini agar mampu berbahasa Batak. Sama seperti pembelajaran bahasa disekolah, bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, atau Sunda, mereka dilatih dan diajarkan kosa kata, tata bahasa yang baik & benar.
Pernahkah kita melakukan itu terhadap si anak, atau si anak sama sekali tidak perduli. Bahkan ada dari mereka yang tidak bangga atas jati dirinya, tercerabut dari akarnya.
Belajar bahasa harus senantiasa dilatih dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Dan kita harus ingat, punahnya bahasa dearah dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah itu. Kapan itu akan sirna, tergantung pemilik bahasa daerah tersebut, beberapa generasi ke depan, 100 tahun lagi, 75 tahun lagi atau 25 tahun lagi.
Saya pernah menulis suatu artikel di internet , dengan judul Apakah Anda Turut Berperan Memusnahkan Bahasa Batak Toba? dengan beberapa indikator.
Sebagian dari isi tulisan itu saya sampaikan lagi disini.
1. Karena orangtua (Ayah/Ibu) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.
2. Bila bahasa Batak bukan lagi bahasa yang dominan di rumah. (Punahnya bahasa daerah, dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah itu)
3. Bila orangtua tidak mengajarkan anaknya bahasa Batak. Orang tua tidak menyampaikan kepada si anak bila mereka berbahasa Batak, dijawablah dalam bahasa Batak, bila mereka berbahasa asing dijawablah dalam bahasa asing tersebut.
4. Bila Ompung naburjui berkomunikasi dengan pahompu harus menggunakan Bahasa sileban (Indonesia atau Inggris) biar pahompu yang manis manis ini mengerti.
5. Bila si anak mengatakan: “Saya sudah lahir, besar di (Medan, Jakarta, Bandung, Jogja, dll) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.” Dan mereka sangat bangga mengatakan itu. Orang Belanda ratusan tahun tinggal di Batavia, tetap saja berbahasa Belanda. Orang China, India, dll begitu juga. Orang Jawa direlokasi ke Sumatra, malah tetangganya yang Batak jadi berbahasa Jawa.
6. Bila si anak ditanya dalam bahasa Batak, Di dia hutam, Aha Margam? Ise Goarmu? langsung error tidak nyambung. Tapi bila ditanya: “Kamu orang apa?” dia akan menjawab dengan mantap “Orang Batak”.
7. Bila anak anak di rumah lebih fasih berbahasa asing (Inggris, Mandarin atau bahasa daerah yang lain) dibanding berbahasa Batak. Padahal menguasai banyak bahasa tidak ada ruginya, termasuk bahasa Batak itu sendiri.
8. Jika ponakan; bere, paraman, maen, anak kakak, anaknya adik tidak mampu juga
9. Bila naposo ini mengatakan: Ngerti seh … tapi nggak bisa ngomongnya.
10. Ketika orang orang muda ini berkata “Proud to be Batak” tapi tidak bisa ngomong.
11. Bila kita beranggapan, kalau libur sekolah, anak anak mau dikirim ke kampung untuk belajar bahasa Batak. (Kenyataan, dikampung, anak anak sekarang sudah tidak berbahasa Batak lagi)
12. Bila orangtua menganggap: “Hare gini … … anak anak diajari Bahasa Batak”
13. Bila kita mandok hata (berbicara) dalam suatu acara keluarga/pesta, ada yang teriak: “Pake bahasa Indonesia saja, biar anak-anak pada ngerti.”
14. Bila anaknya tokoh adat, raja parhata, yang rajin ke pesta dan perduli dengan urusan adat, tapi anak anaknya tidak mampu berbahasa Batak dengan baik.
15. Saat kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita halak hita (orang kita Batak), dia reply dalam bahasa lain yang lebih dominan
16. Ketika orang Batak merasa malu berbicara dalam bahasa Batak di keramaian, tempat umum saat bertemu dengan halak hita.
17. Kesulitan membaca tulisan dan banyak tidak dimengerti tulisan yang dimuat dalam bahasa Batak seperti yang ditulis di Blog TanoBatak.
Sekarang kita sulit mengucapkan hata Batak yang halus, bahkan cara menuliskannya, apalagi aksaranya, sudah duluan hilang, dihilangkan. Pergi entah kemana, mago (punah).
Apakah bahasa Batak itu akan kita biarkan, terancam punah? Sebaiknya kita sedih bila itu sampai terjadi. Hanya ada satu cara sederhana mencegahnya dan langsung bisa kita terapkan. Jadikan bahasa Batak menjadi salah satu bahasa pengantar di rumah. Kita mulai dari rumah sendiri, orang tua terhadap anak dan sebaliknya, upayakan dibalas dalam bahasa Batak, kita lakukan setiap hari, nantinya akan terbiasa dan bisa. Lakukan juga, di arisan, atau lingkungan halak hita diluar rumah. Krim SMS, email dalam bahasa Batak terutama terhadap anak muda. Ditulis dengan benar juga.
Bila kita tidak mampu melakukan itu, jangan harap orang lain akan melakukan pelestarian bahasa Batak. Jadikan anak anak itu, hela, parumaen, cucu, bere mampu berbahasa Batak.
Anak anak & Nico Siahaan
Anak anak disebelah Nico Siahaan ini, sejak usia dini saya latih berbahasa Batak, kosa katanya semakin bertambah.
Akan saya ajari mereka mampu berbahasa Batak dan mahir berbahasa asing lainnya, tumbuh menjadi Batak Keren, agar bahasa Batak tidak punah di rumahnya kelak.
--- --- ---
Punahnya bahasa daerah dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah tersebut.
Dirumah kami, saya pastikan bahasa Batak tidak akan punah. Setiap hari mereka saya latih. Anak anak mahir beberapa bahasa, bahkan si kakak berprestasi pada lomba bahasa asing. Tapi saya katakan pada mereka, Papa lebih bangga bila kalian, mampu juga berbahasa Batak. Saya ingatkan, mereka tidak bisa jadi Badui, tidak bisa juga jadi Jahudi. Tidak bisa jadi Bugis dan tidak bisa jadi Prancis, jadilah Batak Keren, mampu berbahasa Batak dan bahasa asing lainnya.
Semoga artikel sederhana ini dapat mengingatkan kita, menjaga agar bahasa Batak dan bahasa daerah lainnya di Indonesia tetap lestari.
Charlie M. Sianipar
Selengkapnya...
MANOLSOL DIPUDI NDANG MARGUNA
Boasa songon na tungki jala dongon bohimu, eda Nai Longatiar, aha arsakmu huroha? Ninna nai minta tu Nai Longatiar. Ba aha ma da eda! So marsak situtu rohangku, ai ndang tarbereng ahu be donganku ala ni ilangku dohot haurahonku, lumobi ala pangula ni huria (parhalado) muse do amanta. O, taringot tu berengku si Longatiar i do na ni dokmu? Ninna nai Longatiar. Olo, i ma da eda! Ninna Nai Longatiar mangalusi. Ai beha huroha taringot tu si Longatiar i, ndang hea hubege taringot tusi ninna Nai Lampita manorohon hatana. A, ganjang do nian taringot tusi, ai huhilala, na parigat-rigat bulung ni gaol do hamu, pasigat-sigat bulung ni bulu, na mangarungkai hinadangol do hamu hamu laho paingot-ingot hinalungun. Alai hudok pe songon i hundul ma jolo satongkin asa hupajojor sidangolonhon. Dung i hundul ma nasida na tolu manguselleng manghatai.
Marbarita ma Nai Longatiar, didok: Silongatiar dope nian boru buhabajungku dilehon Debata. Dibahen las nirohangku hubahen ibana marsingkola, nunga tammat ibana sian S.P.G dua taon naung salpu, alai matua so adong penempatanna dibahen pamarenta. Nunga mulahulak ibana mambahen permohonanna asa ditempathon nian ibana, hape matua so adong do ingananna. Jadi gabe sai rap ma ibana dohot angka namarbaju na di hutanta on, alai apala dongan-donganna i ma si Mintasi naung tammat sian sikola Lanjutan Pertama. Jotjot ma nasida huida mardalan-dalan rap dohot doli-doli, apala di rondang ni bulan ma, didok nasida: ” Terang-terang bulan”. Ba sogo ma rohangku disi, ai nunga tung alo i tu pangkilalaanku, ai dang hea masa na songon i di haposoonniba. Muruk-muruk ma ahu tu si Longatiar i, unang sai didatdati be nian si songon i. Molo sai naeng mangkatai ho dohot doli-doli bat u bagasta ma nasida ro martandang, ningku ma tu ibana. Gabe jotjot ma hami pasual dohot ibana si ala ni i. Didok si Longatiar i ma tu ahu: ai dirimpu ho songon kolot ni hamu be hami naposo nuaeng, ai ndang diida ho angka baoa do dongan niba di parsingkolaan, ba ndang hea tarurak iba, binoto do mangaramoti, mangarajai diri niba. Dung i tung bahenon ma haurahon tu natorasniba dohot tu angka ibotoniba?
Alai atik pe songon i alusna ndang sonang rohangku tongtong do ibana hubadai, hupodai taringot tu parsaoranna na bebas i. Alai ianggo apala pajut dohot patunduk rohangku hata poda ni amanta do.
Didok amanta ma tu ahu: O, inang ni Longatiar unang pola sai marsoali ho dohot borunta si Longatiar taringot tu pargaulan, parsaoranna i rap dohot angka donganna magodang, ai nunga asing naposo nuaeng sian hita naposo najolo, ai bege ma, hupaboa hata ni sahalak sintua ni sada huria tu ahu Na sogo roha ni sintua i di pargaulan bebas ni angka naposo di huriana i, gabe dipangido sintua i ma tu guru ni huria i asa mandok sipaingot jolo ibana tu angka naposobulung i di tingki parguruendean nasida. Saut ma jongjong sintua i mandok hata sipaingot tu angka naposo bulung i taringot tu pargaulan bebas i. Godang do sijagaon disi, ninna sintua i. Alai dung sun sintua i mandok sipaingot i, jongjong ma sahalak namarbaju naung tatang pardagingonna, didok ma mangalusi sintua i. Amang, sintua, sintong situtu do sipaingot muna i, laos songon i do poda ni halak amanta dohot inanta tu ahu. Huihuthon ma poda nasida i, ndang olo ahu mandongani angka donganhu nabarbaju i mardalan-dalan bodarina, nang di torang ni bulan, lumobi mardonganhon doli-doli. Tinggal di jabu nama ahu hundul mangkulhul, manirat, manulam, mangarenda, hape ndang adong na ro manopot ahu, ala so ditanda halak be ahu, hape angka na tubu dipudingku nunga torop marmulian, gabe hatinggalan nama ianggo ahu. Umbege i gabe hohom ma sintua i.
Ahu pe dung hubege barita na sian amanta i hohom nama ahu. Hupasombu nama si Longatiar i di pargaulanna i, jala laos martandang modom ma ibana tu bagas ni si Mintasi donganna magodang i.
Hape dung adong manang piga bulan si Longatiar na marpargaulan bebas i. digora halak ma pardagingonna, ai nunga marbadan dua ibana. Dihatahon halak ma i tu hami. Hupamanat hami ma tutu pardagingon ni si Longatiar i, nunga sintong na pinadok ni jolma i. Marsak ma hami dohot dongan sabutuha dohot angka tondong, sisolhot.....
Bersambung...
Selengkapnya...
15 Mei 2009
Dainang Pangintubu
Dung lam matua iba, lam niingot ma sude poda ni natua-tua manorusi tu roha nang di angka na niula. Ndang lupa ahu di pangajarion ni dainang pangintubu, asa unang margabus. Tingki i marumur ma ahu hirahira 7 taon. Partiga-tiga do dainang pangintubu, jala dung ro ibana sian onan, disuru ma ahu mamilangi uangna dibahen di hadang-hadangan. Di tingki i masa do juji di angka dakdanak, jadi porlu ma uang asa boi marjuji. Tubu ma tu rohakku naeng mambuat, marhitehite mambahen salompitan sampulu sada lembar, (sasintongna ingkon 10 lembar do). Dung sidung hubilangi, hupaboa ma tu dainang pangintubu godang ni bilangan ni uang na i.
Didok dainang ma tu ahu ”bilang (etong) ma jolo amang sahalinari. Ai molo songoni do ndang adong be na huomo”. Marlobok ma tarontokhu hururut ma muse sada sian lompitan, alai hutinggalhon dope debanari salompitan 11 lembar. Hupaboa ma muse godangna tontu tamba ma sian na parjolo.
Didok dainang ma muse ”hurang tangkas dope i, amang hasian, tung etong damang ma jolo muse, ai molo songoni tong dope rugi ahu, hape mangihuthon paretonganhu adong do na huomo”. Marlobok ma muse tarontokhu gumogo sian na parjolo, pola hodohan ahu. Huetong ma muse, jala hururut ma debanari sadasada sian lompitan na, alai adong dope tinggal salompitan 11 lembar. Didok dainang ma tu ahu: ”Unang margabus ho amang”, ai hubilangi hian do i nangkin sian onan, na husursari do i, jala hudokon ho mangetong. Molo porlu di ho hepeng pangido tu ahu, alai palaho ma tu na denggan. Sai na dapot do pargabus, holan soal tingki do. Molo dung margabus, manangko ma muse, jala dang haposan be.
Dung olat ni na masa I, molo didokhon ahu mangetong uangna, sai ro ma tu rohakku, naung dietong dainang do on. Sahat tu sadarion, huingot do poda ni dainang i. Jala bangkol do ahu margabus.
Na lambok do dainang mangajari hami, ndang hea risi hatana, jala tung sude do hami mabiar margabus.
Digombarhon na masa on do, pendidikan ni ina pangintubu dibagasan halambohon, tung mansai manorusi do I tu ianakhonna.
Molo pinarateatehon do pangajarion nuaeng tu angka ianakhonta, jotjot do hita dibagasan muruk, hape jotjot ndang dioloi angka ianakhonta hita. Patut do didok angka natuatua: Hata na lambok tumajom do pangonaionna sian hata na koras”.
Sude do hita umbotosa ulaon ni supir. Molo di dalan na tigor i boi do supir mamboan hatop motor i, jala rem ni motor i tong do sai manat diparateatehon, jala molo adong bahaya hatop direm. Ndang hea supir mambahen hatop di dalan tekongan, songon hatopna di dalam na tigor. Songoni ma pambahen ni dainang tu hami. Adong do tingkina maminsang, jala adong do tingkina mangalehon semangat. Di hata nuaeng, on ma hape na nidokna: ” Kebijaksanaan”.
Sibasabasa do tu angka ina dilehon Tuhanta halambohon ai umumna sai lumambok do angka ina sian ama; atik pe adong sadasada rumisi ina sian ama. Nidok ni turpuk on, manorusi do pangajarion ni ina na lambok marhitehite pangulaon manogunogu ianakhonna.
Diketik ulang dari tulisan Drs. L .D Siagian
SP INA Mei 1985
Selengkapnya...
